Kompilasi Foto Proyek (Part 1)


sumber dari : http://purbolaras.wordpress.com/2010/05/05/kompilasi-foto-proyek-part-1/

Beberapa waktu yang lalu penulis membuka-buka file-file lama (bukan sekadar iseng lho, tapi memang lagi nyari referensi…), lalu menemukan di antaranya yaitu yang terbaca sebagai judul tulisan ini. Isinya ya kumpulan foto-foto dari beberapa proyek di beberapa tempat. Wah, punya banyak proyek ni ya… Oh bukan, ceritanya ini dulu salah satu program kerja bidang akademik di Korps Asisten Teknik Sipil (KATS) di almamater penulis, UGM,  yang mana penulis menjadi koordinator saat itu (sekitar tahun 2004 kalo nggak salah). Mumpung waktu itu juga nyambi Kerja Praktek (istilah lain Kerja Lapangan, PKL, dan sejenisnya) di proyek (termasuk teman-teman penulis), muncul ide untuk mengumpulkan foto-foto jepretan di proyek menjadi satu album kompilasi. Bukan untuk dijual lho (emangnya kompilasi lagu hehehe…), tapi sebagai sarana belajar bagi rekan-rekan mahasiswa dan asisten sekalian. Selain disimpan di komputer sebagai arsip, sebagian juga diprint dan ditempel di dinding ruang asisten (masih ada tidak ya sekarang :) ), biar yang pada datang ke situ (nyari asisten, mau asistensi, minta tanda tangan, acc jilid, dll.) juga bisa melihat-lihat. Oo, ini to yang namanya scaffolding… Oo, yang biasa dilihat ngeruk tanah tu ’begu’ alias ’backhoe’… Oo, ’tahu beton’ tu bentuknya kayak gini… Hitung-hitung kan sebagai selingan juga, kalau belajar atau lihat rumus terus (atau nge-SAP terus…) kan bisa pusing hehehe…

Nah, daripada hanya tersimpan, mendingan kalau dimuat sekalian di blog ini, supaya yang lain juga bisa menikmati. Foto-fotonya sih memang dari tahun 2003-2004 alias sudah agak lama, tapi yang penting tetap masih relevan kok. Sumbernya dari beberapa proyek, kebanyakan bangunan gedung, ada yang di Jogja dan Jakarta. Penulis cenderung tidak menyebut nama atau lokasi proyek, hanya sekadar memberi penjelasan seperlunya saja. Tulisan ini rencana akan di-split menjadi dua bagian, dengan bagian pertama ini fokus pada peralatan, kemudian bagian selanjutnya tentang pelaksanaan pekerjaan. Oya, maaf juga kalau tidak semua kualitas fotonya bisa bagus, karena sebagian ada yang berupa scan cetakan foto.

Mau dipakai sebagai referensi? Boleh kok, terutama foto-fotonya kan… Pengalaman pribadi penulis juga sih, mau bikin laporan kerja praktek, eh kok kurang beberapa foto. Jadi mau dipakai silakan, cuma ingat dua hal berikut :

  • Untuk foto laporan, pastikan latarnya sesuai (baca: tidak kontradiksi) dengan situasi proyeknya. Misal proyek jalan di pedalaman, mau ambil foto backhoe, eh ternyata di sekitarnya kok ada stek tulangan kolom… ini proyek jalan apa flyover ya hehehe…
  • Jangan lupa cantumkan sumbernya dari blog ini. Sengaja tidak penulis beri embel-embel tulisan pada fotonya, supaya tidak mengganggu pemandangan :) , tapi paling tidak ya hargailah upaya memilah dan memilih dan upload foto-fotonya yang cukup banyak hehehe…

Ok deh, langsung mulai saja…

Yang nongol pertama ini adalah scaffolding. Fungsinya terutama sebagai perancah/sokongan (shoring) misal pada pengecoran pelat lantai secara insitu (bukan precast/pracetak) seperti terlihat di foto, bisa pula digunakan sebagai platform bantuan. Di bagian bawah yang menjadi tumpuan namanya base plate sedangkan yang atas ada U-head (bentuk seperti huruf U) yang bisa dipakai untuk penempatan kayu/balok penyangga. Dua bagian ini yang disetel untuk mendapatkan elevasi yang diinginkan, sedangkan main frame (rangka) dan bracing silang (cross brace) sudah ukuran tertentu tergantung tipe.

Yang ini bekisting alias cetakan kolom, terbuat dari bahan fibre. Terlihat pada foto bahwa ini cetakan untuk kolom lingkaran/bundar. Bila dibandingkan bekisting biasa dari kayu yang masa pakainya hanya beberapa kali, jenis ini dapat dipakai berulang kali. Namun tentu saja dimensinya terbatas dan harus menyesuaikan ketersediaan di pasaran, belum harganya juga bisa lebih mahal sehingga harus diperhitungkan pula frekuensi pemakaian mesti banyak biar tidak rugi. Kalau volume pemakaian cenderung sedikit/kecil, bisa lebih murah pake yang kayu saja.

Dua foto ini masing-masing untuk pembengkokan tulangan misal pada stek tulangan atau kait (bar bender, atas) dan untuk keperluan pemotongan tulangan (bar cutter, bawah). Tergantung modelnya, ada batasan maksimum diameter yang bisa diakomodasi (sekitar diameter 32 mm). Catatan: tulisan tangan di bar bender itu (kiri tanggal) memang sudah ada di situ, nggak tahu kok motretnya pas ya… :)

Ini concrete vibrator, berguna terutama saat pekerjaan pengecoran, untuk pemadatan adukan beton segar. Untuk jenis yang di foto ini memadatkan dengan getaran langsung pada adukannya (langsung dicelupkan di beton alias secara internal). Untuk tipe lain yang eksternal ditempelkan pada bekistingnya.

Alat stamper (nama lain tamping rammer) ini berfungsi untuk pemadatan tanah dengan prinsip getaran, untuk cakupan wilayah lokal/kecil, atau yang tidak bisa terjangkau alat berat.

Teodolit, pada proyek bangunan gedung terutama berfungsi untuk penentuan/pengecekan elevasi, juga untuk keperluan survey lahan.

Namanya tahu beton, tapi jangan disamakan dengan tahu tempe telor ya… Umumnya bentuk kotak kecil-kecil (mirip tahu, atas), walau ada juga yang bundar seperti di foto (bawah). Fungsinya sebagai pemberi jarak selimut beton antara tulangan lapis terluar dengan bekisting/cetakan.

Memiliki sebutan kursi tulangan (ada juga yang menyebut dengan cakar/kaki ayam karena bentuknya), benda ini berguna sebagai pengatur/penjaga jarak antara lapis tulangan atas dan bawah pada tulangan pelat, dipasang pada beberapa titik luasan. Dibuat dari tulangan yang dibengkok hingga membentuk kursi/kaki/dudukan dengan tinggi tertentu.

Biasa hadir pada proyek bangunan tinggi atau luas, tower crane sangat membantu dalam mobilitas material bangunan maupun peralatan baik secara vertikal (tergantung tinggi mast/tower) maupun horizontal (tergantung jangkauan lengan/arm/jib). Foto sebelah atas menggunakan mekanisme counterweight dengan blok beton.

Yang atas untuk pengangkutan sekaligus pengadukan beton segar (truk concrete mixer) dan yang bawah untuk pengecoran / pemindahan beton segar ke titik pengecoran (truk concrete pump), terutama untuk elevasi tinggi / jarak jauh. Kapasitas untuk truk mixer umumnya sekitar 5-7 m  kubik, yang biasanya diorder dari batching plant/ready mix. Untuk truk pompa, tergantung tipe dan model ada batasan jangkauan distribusi horizontal dan vertikal, termasuk diameter aregat dan slump betonnya.

Gerombolan alat berat ini masing-masing bernama (urut dari paling atas): backhoe (untuk keperluan galian), straight & U-blade bulldozer (untuk pemindahan massa tanah), dan vibro & sheep foot roller (untuk pemadatan).

Nah, untuk yang terakhir ini kayaknya sudah jelas nama dan fungsinya, sehingga tidak perlu dijelaskan lagi ya… :)

Oke, sementara sekian dulu bagian pertama ini. Akan menyusul lebih banyak (dan lebih seru) lagi pada bagian selanjutnya tentang pelaksanaan pekerjaan. Sampai jumpa di bagian kedua !

Sumber dari : http://purbolaras.wordpress.com/2010/05/05/kompilasi-foto-proyek-part-1/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s