METODE PENULISAN KARYA ILMIAH (3)


BAB III
KODE ETIK DAN PENULISAN RUJUKAN

Standar Kompetensi

Setelah mengikuti kegiatan ini peserta pelatihan diharapkan memiliki kemampuan memahami karakteristik karya ilmiah, sistematika dan kerangka penulisannya, memahami metode penulisan karya ilmiah; memahami kode etik dan cara-cara menulis rujukan; serta format penulisan ilmiah.

Kompetensi dasar

Setelah menempuh mata kuliah ini , diharapkan peserta pelatihan mampu:
1. Peserta latih dapat mengenali kode etik penulisan karya ilmiah
2. Peserta latih dapat menulis daftar pustaka untuk jurnal dan makalah bahan seminar serta laporan penelitian
3. Peserta latih dapat menulis karya ilmiah dengan menggunakan format penulisan ilmiah

A. Kode Etik Penulisan Karya Ilmiah

Kode etik adalah seperangkat norma yang perlu diperhatikan dalam penulisan karya ilmiah. Norma ini berkaitan dengan pengutipan dan perujukan, perizinan terhadap bahan yang digunakan dan penyebutan sumber data atau informasi.

Dalam penulisan karya ilmiah, penulis harus secara jujur menyebutkan rujukan terhadap bahan atau pikiran yang diambil dari sumber lain. Pemakaian bahan atau pikiran dari suatu sumber atau orang lain yang tidak disertai dengan rujukan dapat diidentikan dengan pencurian.
Penulis karya ilmiah harus menghindarkan diri dari tindak kecurangan yang lazim disebut plagiat. Plagiat merupakan tindak kecurangan yang berupa pengambilan tulisan atau pemikiran orang lain yang diakui sebagai hasil tulisan atau pemikiran orang lain yang diakui sebagai hasil tulisan atau hasil pemikirannya sendiri. Oleh karena itu, penulis skripsi dan tesis wajib membuat dan mencantumkan pernyataan dalam skripsi, tesis atau disertasinya bahwa karyanya itu bukan merupakan pengambilalihan tulisan atau pemikiran orang lain.

Dalam menulis karya ilmiah, rujuk-merujuk dan kutip-mengutip merupakan kegiatan yang tidak dapat dihindari. Kegiatan ini amat dianjurkan, karena perujukan dan pengutipan akan membantu pengembangan ilmu.

Dalam menggunakan bahan dari suatu sumber (misalnya instrumen, bagan, gambar, dan tabel), penulis wajib meminta izin kepada pemilik bahan tersebut. Permintaan izin dilakukan secara tertulis. Jika pemilik bahan tidak dapat dijangkau, penulis harus menyebutkan sumbernya dengan menjelaskan apakah bahan tersebut diambil secara utuh, diambil sebagian, domodifikasi atau dikembangkan.

Namun sumber data dan informasi, terutama dalam penelitian kualitatif, tidak boleh dicantumkan apabila pencantuman nama tersebut dapat merugikan sumber data atau informan. Sebagai gantinya, nama sumber data atau informan dinyatakan dalam bentuk kode atau nama samaran. Setelah bagian pendahuluan ini akan diuaraikan secara berturut-turut tentang skripsi dan tesis hasil penelitian kuantitatif, dan penelitian kualitatif, kajian pustaka dan hasil kerja pengembangan (proyek).

B. Cara Merujuk dan Menulis Daftar Rujukan

1. Cara Merujuk
Perujukan dilakukan dengan menggunakan nama akhir dan tahun diantara tanda kurung. Jika ada dua penulis, perujukan dilakukan dengan cara menyebut nama akhir ledua penulis tersebut. Jika penulis lebih dari dua orang, penulisan rujukan dilakukan dengan cara menulis nama pertama dari penulis tersebut diikuti dengan dan kawan-kawan. Jika nama penulis tidak disebutkan, yang dicantumkan dalam rujukan adalah nama lembaga yang menerbutkan, nama dokumen yang diterbitkan, atau nama koran. Untuk karya terjemahan, perujukan dilakukan dengan cara menyebutkan nama penulis aslinya, rujukan dari dua sumber yang ditulis oleh penulis yang berbeda dicantumkan dalam satu tanda kurung, dengan titik, sebagai tanda pemisahnya.

2. Cara Merujuk Kutipan-Kutipan Langsung
a. Kutipan Kurang dari 40 Kata
kutipan yang berisi kurang dari 40 kata diantara tanda kutip (“…”) sebagai bagian yang terpadu dalam teks utama, dan diikuti nama penulis, tahun dan nomor halaman. Nama penulis dapat ditulis secara terpadu dalam teks atau menjadi satu dengan tahun dan nomor halaman di dalam kurung. Lihat contoh berikut:
Nama penulis disebut dalam teks secara terpadu.
Contoh:
Soebronto (1990: 123) menyimpulkan “ada hubungan yang erat antara faktor sosial ekonomi dengan kemajuan belajar”.
Nama penulis disebut dengan tahun penerbit dan nomor halaman.
Contoh:
Kesimpulan dari penelitian tersebut adalah: “ada hubungan yang erat antara faktor sosial ekonomi dengan kemajuan belajar”( Soebronto, 1990: 123).
Jika ada tanda kutip dalam kutipan, digunakan tanda kutip tunggal (‘…’).
Contoh:
Kesimpulan dari penelitian tersebut adalah “terdapat kecenderungan semakin banyak ‘campur tangan’ pimpinan perusahaan semakin rendah tingkat partisipasi karyawan di daerah perkotaan” (Soewignyo, 1991: 101).
b. Kutipan 40 Kata atau Lebih
Kutipan yang berisi 40 kata atau lebih ditulis tanpa tanda kutip secara terpisah dari teks yang mendahului ditulis 1,2 cm atau terus 7 ketukan dari garis tepi sebelah kiri dan kanan, dan diketik dengan spasi tinggal. Nomor halaman juga harus ditulis.
Contoh:
Smith (1990: 276) menarik kesimpulan sebagai berikut:
The ‘plecebo effect’. Which had been verified in previous studies, dissappeared whwn behavior were studied in this manner. Furthermore, the behavior were never exhibited again, even when real drugs were administered Earlier student were clearly premature in attributing the results to aplecebo effect.

c. Kutipan Yang Sebagian Dihilangkan
Apabila dalam mengutip langsung ada kata-kata dalam kalimat yang dibuang, maka kata-kata yang dibuang diganti dengan tiga titik.
Contoh:
“Semua puhak yang terlibat dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah… diharapkan sudah melaksanakan kurikulum baru” (Manan, 1995: 278).
Apabila ada kalimat yang dihubungkan, maka kalimat yang dibuang diganti dengan empat titik.
Contoh:
“Gerak manipulatif adalah keterampilan yang memerlukan koordinasi antara mata, tangan, atau bagian tubuh lain…yang termasuk gerak manipulatif adalah menangkap bola, menendang bola, dan menggambar” (Asim, 1995:319).

3. Cara Merujuk Kutipan Tidak Langsung
Kutipan yang disebut secara tak langsung atau dikemukakan dengan bahasa penulis sendiri ditulis tanda kutip dan terpadu dalam teks. Nama penulis bahan kutipan dapat disebut terpadu dalam teks, atau disebut dalam kurung bersama tahun penerbinya. Jika memungkinkan nomor halaman disebutkan. Perhatikan contoh berikut:
Nama penulis disebut terpadu dalam teks.
Contoh:
Mahasiswa tahun ketiga ternyata lebih baik daripada tahun keempat (Salimin,1990:13).

4. Cara menulis Daftar Rujukan
Daftar rujukan merupakan daftar yang berisi buku,makalah, atau bahan lainnya yang dikutip baik secara langsung maupun tidak langsung. Bahan-bahanyang dibaca akan dikutip secara langsung ataupun tak langsung dalan teks harus dicatumkan dalam daftar rujukan.
Pada dasarnya, unsur yang ditulis dalam daftar rujukan secara berturut-turut meliputi: (1) nama penulis dengan urutan: nama akhir, nama awal, dan nama tengah, tanda gelar akademik, (2) tahun penrrbitan, (3) judul, termasuk anak judul (subjudul), (4) kota tempat penerbitan dan (5) nama penerbit. Unsur-unsur tersebut dapat bervariasi tergantung jenis sumber pustakanya. Jika penulisnya lebih dari sati, cara penulisan namanya sama dengan penulis pertama. Nama penulis yang terdiri dari dua bagaian ditulis dengan urutan: nama akhir diikuti koma, nama awal (disingkat atau tidak disingkat tetapi harus dalam satu karya ilmiah), diakhiri dengan titik. Apabila sumber yang dirujuk ditulis oleh tim, semua nama penulisnya harus dicantumkan dalam daftar rujukan.

5. Rujukan dari Buku
Cara menulis rujukan dari buku adalah sebagai berikut:
a. Nama penulis, baik penulis Indonesia maupun bukan Indonesia, dimulai dengan nama belakang (diketik lengkap), diikuti nama depan (sebaiknya diketik singkatan nama depannya), diakhiri dengan tanda (.).
b. Tahun terbit, diakhiri dengan tanda titik (.).
c. Judul buku, diketik dengan huruf miring (italic) atau diberi garis bawah, semua diketik dengan huruf kecil, kecuali huruf pertama judul dan subjudul, diakhiri dengan tnda (.).
d. Kota tempat penerbit atau negara bagian tanpa penerbit (yang dapat didahului dengan kota tempat penerbit), diakhiri dengan tanda titik (:), dan
e. Nama penerbit, diakhiri dengan tanda titik (.).
f. Jika ada beberapa buku yang dijadikan sumber ditulis oleh orang yang sama dan diterbitkan dalam tahun yang sama pula, data tahun penerbitan diikuti oleh lambang a, b, c, dan seterusnya yang urutannya ditentukan secara kronologis atau berdasarkan abjad buku-bukunya.
Contoh:
Bandura, A. 1977. Social Learning Theory. Prentice-Hall: Englewood Clifis. New Jercy.
Bar-Tal, D. 1979. Prosocial Behavior. Theory and Research. New York: John-Weley.
Lewin. K 1935. A Dynamic Theory of Personality : Selected Papers. New York: Mc Graw-Hill.
______. 1935. Principle og Topological Psycology. New York: Mc Graw-Hill.

6. Rujukan dari Buku yang Berisi Kumpulan Artikel (Ada Editornya)
Seperti menulis rujukan dari buku ditambah dengan tulisan (Ed.) jika ada satu editor dan (Eds). Jika editornya lebih dari satu, diantara nama penulis dan tahun tahun penerbitan.
a. Nama penulis, baik penulis Indonesia maupun bukan penulis Indonesia, dimulai dengan nama belakang (diketik oleh lengkap), diikuti nama depan (diketik singkatannya), diakhiri dengan tanda titik (.).
b. Tahun terbit, diakhiri dengan tanda titi (.).
c. Judul artikel, tidak diketik dengan huruf miring (italic) atau dibagi garis bawah, semua diketik dengan huruf kecil kecuali huruf pertama judul dan subjudul , diakhiri dengan tanda titik (.).
d. Ditambah dengan tulisan Ed. jika ada satu editor dan Eds. jika editornya lebih dari satu diantara nama penulis dan tahun penerbitan diketik di belakan kata ‘Dalam’ dan dimulai dengan nama belakangnya (diketik singkatannya), diikuti nama belakang (diketik lengkap), diakhiri dengan tanda titik dua (:).
e. Judul buku diketik huruf miring (italic) atau diberi garis bawah, semua diketik dengan huruf kecil, kecuali huruf pertama judul dan subjudul, diakhiri dengan tanda titik (.).
f. Kota tempat penerbit atau negara bagian tempat penerbit (yang dapat didahului dengan kotya tempat penerbit), diakhiri dengan tanda titik dua (:).
g. Nama penerbit, diakhiri dengan tnda titik (.).
Contoh:
Letheridge, S. & Cannon, C.R. (Eds.). 1980. Bilingualm Education: Teaching as a Second Languege. New York: Praeger
Aminuddin (Ed.). 1990. Pengembangan Penelitian Kualitatif dalam Bidang Bahasa dan Sastra. Malang: HISKI Komisariat Malang dan YA3.

7. Rujukan dari artikel dalam buku kumpulan artikel (ada editornya)
Nama penulis artikel ditulis di depan diikuti dengan tahun penerbitan. Judul artikel ditulis tanpa cetak miring. Nama editor ditulis seperti: menulis nama biasa, diberi katerangan (Ed.) bila hanya satu editor, dan (Eds.) bila lebih dari satu editor judul buku kumpulanny ditulis dengan huruf miring, dan nomor halamannya disebutkan dalam kurung.
Contoh:
Hartley. J.T., Harker, J.O., & Walsh, D.A. 1980. Contemporery Issues dan New Directions in Adult Development of Learning and Memory. Dalam L.W. Poon (Ed.), Aging in the 1980s: Psychological Issue (hlm. 239-252). Washington, DC.: American Psychologicaql Association.
Hasan, M.Z. 1990. Karakteristik Penelitian Kualitatif. Dalam Aminuddin (Ed.), Pengembangan Penelitian Kualitatif dalam Bidang Bahasa dan Sastra (hlm. 12-25). Malang: HISKI Komisariat Malang dan YA3.
Lewin. K. 1958. Group desicion and Social Change. Dalam E.E. Maccoby, T.M. Newcomb & E.L. Hartley (Eds). Reading in Social Psychology. 3 edition. New York: Holt, Rinehard & Wilson.
¬¬_____. 1968. Quasi-stationary social equilibrium and the problem og permanent change. Dalam W.G. Bennis, K.D. Benne, & R. Chin (Eds). The Planning of Change. New York: Holt, Rinehard & Wiston.
atau
Lewin. K. 1958. Group desicion and Social Change. Dalam E.E. Maccoby, T.M. Newcomb & E.L. Hartley (Eds). Reading in Social Psychology. 3 edition. New York: Holt, Rinehard & Wilson.
_____. 1968. Quasi-stationary social equilibrium and the problem og permanent change. Dalam W.G. Bennis, K.D. Benne, & R. Chin (Eds). The Planning of Change. New York: Holt, Rinehard & Wiston.

8. Rujukan dari artikel dalam jurnal
Nama penulis ditulis paling depan diikuti dengan tahun dan judul artikel yang ditulis dengan cetak biasa, dan huruf besar pada setiap katanya ditulis dengan huruf kecil kecuali kata hubung. Bagian akhir berturut-turut ditulis jurnal tahun keberapa, nomot berapa (dalam kurung), dan nomor halaman dan artikel tersebut.
a. Nama penulis, baik pnulis Indonesia maupun bukan Indonesia, dimulai dengan nama belakang (diketik lengkap), diikuti nama depan (diketik singkatan), diakhiri dengan tandi titik (.).
b. Tahun terbit diakhiri dengan tanda titik (.).
c. Judul artikel, tidak diketik dengan huruf miring (italic) atau diberi garis bawah, semua diketikdengan huruf kecil, kecuali huruf pertama judul dan subjudul, diakhiri dengan tanda titik (.).
J. Nama judul, diketik dengan huruf miring (italic) atau diberi garis bawah, diakhiri dengan tanda koma (.).
K. Nomor halaman, tidak diketik dengan huruf miring (italic), nomor halaman ini diketik mulai dari halaman awal sampai dengan akhir artikel.
Contoh:
Bell, S.M. 1970. The Develompent of the Concept of object as Related to Infant-Mother Attachment. Child Development, 41, 291-311.
Bower. G.H. 1981. Mood adn Memory. American Psychologyst, 36, 139-148.
atau
Bell, S.M. 1970. The Develompent of the Concept of object as Related to Infant-Mother Attachment. Child Development, 41, 291-311.
Bower. G.H. 1981. Mood adn Memory. American Psychologyst, 36, 139-148.

9. Rujukan dari artikel dalam jurnal dari CD-ROM
Penulisannya di daftar rujukan sama dengan rujukan dari artikel dalam jurnal cetak ditambah dengan penyebutan CD-ROM-nya dalam kurung.
Contoh:
Krashen, S,. Long, M. & Scaecella, R. 1979. Age, Rate and Eventual Attaiment in second Langueage Acquisition. TESOL Quarterly, 13: 573-82 (CD-ROM: TESOL Quarterly Diginal, 1997).

10. Rujukan dari artikel dalam majalah atau koran
Nama penulis ditulis paling depan, diikuti oleh tanggal, bulan, dan tahun (jika ada). Judul artikel ditulis dengan cetak biasa, dan huruf besar pada setiap huruf awal kata, kecuali kata hubung. Nama majalah ditulis dengan huruf kecil huruf pertama setiap kata, dqan dicetak miring. Nomor halaman disebut pada bagian bagian akhir.
Contoh:
Garner, H. 1981. Do babies Sing a Universal Song? Psuchology Today, hlm. 70-76.
Suryadarma, S. V. C. 1990. Prosor dan Interface: komunikasi data. Info Komputer, IV (4) 46-48.

11. Rujukan dari koran tanpa penulis
Nama koran ditulis di bagian awal. Tanggal, bulan, dan tahun ditulis setelah nama koran, kemudian judul ditulis denan huruf besar kecil dicetak miring dan diikuti dengan nomor halaman.
Contoh:
Jawa Pos. 22 April, 1995. Wanita Kelas Bawah Lebih Mandiri, hlm. 3.

12. Rujukan dari Dokumen Resmi Pemerintah yang diterbitkan oleh suatu penerbit tanpa penulis dan tanpa lembaga
Judul atau nama dokumen ditulis di bagaian awal dengan cetak miring, diikuti tahun penerbitan, kota penerbitan dan bulan penerbit.
Contoh:
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 1990. Jakarta PT Armas Duta Jaya.

13. Rujukan dari Lembaga yang Ditulis Atas Nama Lembaga tersebut
Nama lembaga penanggung jawab langsung ditulis paling depan, diikuti dengan tahun. Judul karangan yang dicetak miring, nama tempat penerbitan, dan nama lembaga yang bertanggung jawab atau penerbitan larangan tersebut.
Contoh:
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa 1978. Pedoman Penulisan Laporan Penelitian Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

14. Rujukan Berupa Karya Terjemahan
Nama penulis asli ditulis paling depan, diikuti tahun penerbitan, nama penerjemah, tahun terjemahan, nama tempat penerbitan dan nama penerbit terjemahan. Apabila tahun penerbitan buku asli tidak dicantumkan, ditulis dengan kata tanpa tahun.
Contoh:
Ary, D., Jacobs, L.C., & Razavieh, A. Tanpa Tahun. Pengantar Penelitian Pnedidikan. Terjemahan Arief Ferchan. 1982. Surabaya. Usaha Nasional.
Mulder, N. 1984. kebatinan dan Hidup Sehari-Hari Orang Jawa dan Perubahan Kultural. Diterjemahkan oleh A.A Nugroho. Jakarta: Gramedia.

15. Rujukan berupa Skripsi, Tesis, atau Disertasi
Nama penulis ditulis paling depan, diikuti tahun yang tercantum pada sampul, judul skripsi, tesis, atau disertasi ditulis dengan cetak miring diikuti dengan pernyataan skripsi, tesis atau disertasi tidak diterbitkan, nama kota tempat perguruan tinggi, dan nama fakultas serta nama perguruan tinggi.
Contoh:
Ardian, 1995. pengaruh Informasi dan Pendidikan terhadap pemahaman ibu dalam Penggunaan ASI. Bandung: Universitas Padjadjaran. Tesis tidak dipublikasikan.
Pangarubuan, T. 1992. Perkembangan Kompetensi Kewacanaan Pembelajar Bahasan Inggris di LPTK. Disertasi tidak diterbitkan. Malang: Program Pascasarjana IKIP MALANG.

16. Rujukan berupa Makalah yang Disajikan dalam Seminar, Penataran, atau Lokakarya
Nama penulis ditulis paling depan, judul makalah ditulis dengan cetak miring kemudian diikuti pernyataan “Makalah disajikan dalam…”… nama pertemuan, lembaga penyelenggara, tempat penyelenggaraan, dan tanggal serta bulannya.
Contoh:
Manan, Bagir. 2004. Mewujudkan Peradilan yang Bersih dan Berwibawa Melalui Good Governance. Makalah disajikan pada Seminar Nasional diselenggarakan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, Medan, tanggal 10 Januari.
Karin, Z. 1987. Tata kota di Negara-negara Berkembang. Makalah disajikan dalam Seminar Tata kota, BAPPEDA Jawa Timur, Surabaya, 1-2 September.

17. Rujukan dari Internat berupa karya individual
Nama penulis ditulis seperti rujukan dari bahan cetak, diikuti secara berturut-turut oleh tahun, judul karya tersebut (dicetak miring) dengan diberi keterangan dalam kurung (Online), dan diakhiri dengan alamat sumber rujukan tersebut disertai dengan keterangan kapan diakses, di antara tanda kurung.
Contoh:
Hitchcock, S., Carr, L., & Hall, W. 1996. A Survey of STM Online Journals, 1990-95: The Calm Before the Storm, (Online), http://joornal.acs.soton.ac.uk/survey.html, diaksus 12 Juni 1996).

18. Rujukan dari Internet berupa artikel dari jurnal
Nama penulis ditulis seperti rujukan dari bahan cetak, diikuti secara berturut-turut oleh tahun, judul artikel, nama jurnal (dicetak miring) dengan diberi keterangan dalam alamat sumber rujukan tersebut disertai dengan keterangan kapan diakses, di antara tanda kurung.
Contoh:
Griffith, A. L. 1995. Coordinating Family and School: Mothering for Scooling. Education Policy Analysis, Archives, (Online), Vol. 3, No. 1, (http:/olam.ed.asu.edu/epaa/, diakses 12 Februari 1997).
Kumaidi. 1998. Pengukuran Bekal Awal Belajar dan Pengembangan Tesnya. Jurnal Ilmu Pendidikan, (Online), Jilid 5, No. 4. (http:/www.malang.ac.id, diakses 20 Januari 2000).

19. Rujukan dari Internet Berupa Bahan Diskusi
Nama penulis ditulis seperti rujukan dari bahan cetak, diikuti secara berturut-turut oleh tanggal, bulan dan tahun, topik bahan diskusi (dicetak miring) dengan diberi keterangan dalam kurung (Online), dan diakhiri dengan e-mail sumber rujukan tersebut disertai dengan keterangan kapan diakses, di antara tanda kurung.
Contoh:
Wilson, D. 20 November 1995. Summaru of Citing Internet Sites. NETTRAIN Discussion List. (Online), (NETTRAIN2ubvm.cc.buffalo.edu, diakses 22 November 1995).

20. Rujukan dari Internet E-mail pribadi
Nama pengirim (jika ada) dan disertai keterangan dala, kurung (alamat e-mail pengirim), diikuti secara berturut-turut oleh tanggal, bulan, tahun, topik, isis bahan (dicetak miring), nama yang dikirim disertai keterangan dalam kurung (alamat e-mail yang dikirim).
Contoh:
Davis, A. (a.dav s@uwts edu.au). 10 juni 1996. Learningto Use web Authoring Tools. E-mail Kepada Alison hunter (huntera@usq.edu.au).

C. Tabel dan Gambar

1. Penulisan Tabel
Penggunaan tabel dapat dipandang sebagai salah satu cara yang sistematis untuk menyajikan data statistik untuk menyajikan data statistik dalam kolom-kolom dan lajur, sesuai dengan klasifikasi masalah. Dengan menggunakan tabel, pembaca akan dapat memahami dan menafsirkan data secara cepat, dan mencari hubungan-hubungannya.

Tabel yang baik seharusnya sederhana dan dipusatkan pada beberapa ide. Memasukkan terlalu banyak data dalam suatu tabel dapat mengurangi nilai penyajian tabel. Lebih baik menggunakan banyak tabel daripada menggunakan sedikit tabel yang isinya terlalu padat. Tabel yang baik harus dapat menyampaikan ide dan hubungannya secara efektif.
Jika suatu tabel cukup besar (lebih dari setengah halaman), maka tabel harus ditempatkan pada halaman tersendiri, dan jika tabel cukup pendek (kurang dari setengah halaman), sebaiknya diintegrasikan dalam teks.

Tabel harus diberi identitas (berupa nomor dan nama tabel) dan ditempatkan di atas tabel. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan perujukan. Jika tabel lebih dari satu halaman, maka bagian kepala tabel (termasuk teksnya) harus diulang pada halaman selanjutnya. Akhir tabel pada halaman pertama tidak perlu diberi garis horizontal. Pada halaman berikutnya tulislah Lanjutan Tabel…pada tepi kiri, tiga spasi dari garis horizontal teratas tabel. Hanya huruf pertama kata tabel ditulis dengan menggunakan huruf besar. Kata “Tabel” ditulis di pinggir, diikuti nomor dan judul tabel. Jika judul tabel lebih dari satu baris, baris kedua dan seterusnya ditulis sejajar dengan huruf awal judul dengan jarak satu spasi. Judul tabel tanpa diakhiri tanda titik. Berilah jarak tiga spasi antara teks sebelum tabel dan teks sesudah tabel. Nomor tabel ditulis dengan angka Arab sebagai identitas yang menunjukkan bab tempat itu dimuat dan nomor urutnya dalam bab yang bersangkutan. Dengan demikian untuk setiap bab nomor urut tabel dumulai dari Nomor 1.
Contoh:
Tabel 4.1. Jumlah Kriminal Keganasan dan Harta Benda di Malaysia
Nomor tabel ini menunjukkan bahwa tabel yang berjudul Persepsi Terhadap Ancaman Korupsi terletak pada Bab IV nomor urut yang pertama. Pengacuan Tabel menggunakan angka, bukan dengan menggunakan kata tabel di atas atau tabel di bawah.
Garis yang paling atas dari tabel diletakkan tiga spasi di bawah nama tabel. Kolom pengetahuan (heading), dan deskripsi tentang ukuran atau unit data harus dicantumkan. Istilah-istilah seperti: nomor, persen, frekuensi, dituliskan dalam bentuk singkatan/lambang. No., %, dan f. Data yang terdapat dalam tabel ditulis dengan menggunakan spasi tunggal. Garis akan digunakan jika dipandang lebih mempermudah pembacaan tabel, tetapi garis vertikal di bagian kiri, tengah, dan kanan tabel tidak diperlukan. Tabel yang dikutip dari sumber lain wajib diberi keterangan mengenai nama akhir penulis, tahun publikasi, dan nomor halaman tabel asli di bawah tabel dengan jarak tiga spasi dari garis horizontal terbawah, mulai dari tepi kiri. Jika diperlukan catatan untuk menjelaskan butir-butir tertentu yang terdapat dalam tabel, gunakan simbol tertentu dan tulis dalam bentuk superskrip. Catatan kaki untuk tabel ditempatkan di bawah tabel, dua spasi di bawah sumber, bukan pada bagian bawah halaman.

Contoh:
Tabel 4.1 Jumlah kriminal keganasan dan Harta Benda di
Malaysia Tahun 1993-2003
Tahun Kriminal Keganasan Kriminal Harta Benda Jumlah
1993 11,164 68,729 79,893
1994 10,301 65,674 75,975
1995 10,623 70,598 81,221
1996 12,340 75,562 87,902
1997 16,919 104,257 121,176
1998 19,673 139,186 158,859
1999 21,157 147,958 169,115
2000 21,604 145,569 167,173
2001 20,390 136,076 156,469
2002 20,843 128,199 149,042
2003 22,790 133,525 156,315

Sumber: Madani, Vol. 5 No. 3. (Oktober 2004: 367)

2. Penyajian Gambar
Istilah gambar mengacu pada foto, grafik, chart, peta sket, diagram, bagan, dan gambar lainnya. Gambar dapat menyajikan data dalam bentuk-bentuk visual yang dapat dengan mudah dipahami. Gambar tidak harus dimaksudkan untuk mambangun deskripsi tetapi dimaksudkan untuk menekankan hubungan tertentu yang signifikan. Gambar juga dapat digunakan untuk menyajikan data statistik berbentuk grafik.
Beberapa pedoman penggunaan gambar dapat dikemukakan seperti berikut:
a. Judul gambar ditempatkan di bawah gambar, bukan di atasnya. Cara penulusan judul gambar sama dengan penulisan judul tabel.
b. Gambar harus sederhana untuk dapat menyampaikan ide dengan jelas dan dapat dipahami tanpa harus disertai penjelasan tekstual.
c. Gambar harus digunakan dengan hemat. Terlalu banyak gambar dapat mengurangi nilai penyajian data
d. Gambar yang memakan tempat lebih dari setengah halaman harus ditempatkan pada halaman tersendiri.
e. Penyebutan adanya gambar seharusnya mendahului gambar.
f. Gambar diacu dengan menggunakan angka, bukan dengan menggunakan kata gambat di atas gambat di bawah.
g. Gambar dinomori dengan menggunakan angka Arab seperti pada penomoran tabel.

D. Penggunaan Bahasa Indonesia dengan Baik dan Benar

Bahasa Indonesia adalah bahasa yang kita gunakan untuk berkomunikasi secara resmi maupun tidak resmi dengan teman, kolega, keluarga dan lain-lain. Namun, menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam menulis bahan ajar bukan merupakan hal yang mudah. Banyak kaidah-kaidah bahasa yang perlu diikuti sehingga penggunaan bahasa dalam penulisan bahan ajar menjadi baik dan benar. Penggunaan bahasa yang baik dan benar dalam bahan ajar akan meningkatkan kualitas bahan ajar tersebut, sehingga dapat dimengerti dengan mudah oleh pemakainya.

1. Pembentukan Kata
Dalam pembentukan kata yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:
a. Jika meng- ditambahkan pada dasar yang bnersuku sati, bentuknya berubah menjadi menge-
meng- + tik = mengetik
meng- + bom = mengebom
meng- + cek = mengecek
b. Konsonan rangkap pada awal kata tidak lulus apabila ditambahkan dengan meng-,
meng- + produksi = memproduksi
meng- + klasifikasi = mengklasifikasi
meng- + transfer = mentransfer
c. Jika verbal berdasar tunggal direduplikasi, dasarnya diulangi dengan dipertahankan peluluhan konsonan pertamanya. Dasar yang bersuku satu mempertahankan nge- di depan dasar yang diredupliksi;
tulis = menulis = menulis-nulis
pijit = memijit = memijit-mijit
d. Bila kata majemuk direduplikasi yang diulang adalah kata awal.
kereta api = kereta-kereta api
meja makan = meja-meja makan

2. Asas Pemungutan Kata
a. Asas pemungutan secara utuh
abad biadab
ilham hikayat
radio ijab
mode izin
hotel motor
b. Asas pemungutan dengan perubahan atau penyesuaian bunyi
subject = subjek
system = sistem
effektive = efektif
frequency = frekuensi
description = deskripsi
c. Asas pemungutan dengan terjemahan
medical = pengobatan
spoortein = kareta api
dentist = dokter gigi
vulcano = gunung api
sportsman = olahraga

3. Bentuk baku dan tidak baku
Baku Tidak baku
kemarin kemaren
hakikat hakekat
sistem sistim
konkret konkrit
khotbah khutbah

4. Pembentukan Kalimat
Hal penting yang perlu diperhatikan dalam pembentukan kalimat adalah apakah kalimat-kalimat yang kita hasilkan dapat memenuhi syarat suatu kalimat yang benar (gramatikal). Kalimat yang gramatikal adalah kalimat yang strukturnya benar berdasarkan kaidah bahasa (aturan bahasa). Selain itu, apakah kita dapat mengenali kalimat gramatikal yang dihasilkan orang lain.

a) Syarat kalimat
Sekurang-kurangnya, kalimat memiliki subjek dan predikat. Kalau tidak memiliki unsur subjek dan predikat, pernyataan itu bukanlah kalimat. Predikat kalimat dalam bahasa Indonesia ada dua macam, yaitu (1) kalimat yang berpredikat kata kerja, dan (2) kalimat yang berpredikat bukan kata kerja. Contoh: Tugas itu dikerjakan oleh para pegawai BRI.
Kata kerja dalam kalimat itu ialah dikerjakain. Kata dikerjakan adalah predikat dalam kalimat itu. Setelah ditemukan predikat dalam kalimat itu, subjek dapat ditemukan dengan cara mengejukan pertanyaan dengan kata apa atau siapa. Apa yang dikerjakan? Atau, siapa yang dikerjakan?
Jawaban atas pertanyaan itu ialah tugas itu. Kata tugas itu, merupakan subjek kalimat. Kalau tidak ada yang dijadikan jawaban pertanyaan itu, berarti subjek tidak ada. Dengan demikian, pertanyaan dalam bentuk deretan kata-kata itu bukanlah kalimat.
Perhatikan pernyataan berikut!
(1) Berdiri aku di atas bangku.
(2) Kumandikan adik pada pagi hari.
Perhatikanlah pula pernyataan berikut: Dalam kamar ini memerlukan empat buah kursi. Mari kita gunakan cara menemukan subjek dan predikat seperti di atas. Mula-mula kita temukan subjek dan predikat seperti di atas. Mula-mula kita temukan dulu kata kerja dalam kalimat itu, yaitu memerlukan. Kata memerlukan adalah predikat kalimat. Selain itu, kita berusaha menemukan subjek kalimat dengan bertanya apa atau siapa yang memerlukan. Jawabannya adalah kamar ini. Dalam kalimat di atas, kata kamar ini didahului kata dalam, sehingga tidak memungkinkan kata kamar ini berstatus subjek. Kata dalam menandai kata di belakangnya itu sebuah keterangan tempat. Dengan demikian, pernyataan itu tidak bersubjek, jadi bukan kalimat.
Kalimat-kalimat yang tidak gramatikal serinng disebabkan oleh ketaksaan pikiran penutur bahasa, yaitu dua konsep dipadukan menjadi satu sehingga melahirkan struktur kalimat yang tidak tegas dan bermakna ganda.

b) aktif dan pasif
Saya sudah katakan bahwa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar itu tidak mudah.
Kalimat itu merupakan perpaduan dari dua konsep kalimat aktif dan pasif.

Kalimat aktif:
Saya sudah mengatakan bahwa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar itu tidak mudah.

Kalimat pasif:
Sudah saya katakan bahwa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar itu tidak mudah.

c) Subjek dan keterangan.
Contoh: Dalam konferensi tingkat tinggi negara-negara nonblok tidak memutuskan tempat penyelenggaraan konferensi berikutnya. Kalimat itu merupakan perpaduan dari dua konsep, yaitu: subjek dan keterangan.

Subjek:
Konferensi tinggkat tinggi negara-negara nonblok tidak memutuskan tempat penyelenggaraan konferensi berikutnya.

Keterangan:
Dalam konferensi tingkat tinggi negara-negara nonblok tidak diputuskkan tempat penyelenggaraan konferensi berikutnya.

d) Pengantar kalimat dan predikat
contoh:
Menurut ahli geologi itu dinyatakan bahwa perembesan air laut telah sampai ke wilayah Jakarta Pusat.
Kalimat itu, merupakan perpaduan dari dua konsep yaitu pengantar kalimat dan predikat.
Pengantar kalimat:
Menurut ahli geologi itu, perbesaran air laut telah sampai ke wilayah Jakarta Pusat.
Predikat:
Ahli geologi itu menyatakan bahwa perembesan air laut telah sampai ke wilayah Jakarta Pusat.

e) Kalimat majemuk dan kalimat bersusun
Contoh:
Meskipun kita tidak menghadapi musuh, tetapi kita harus selalu waspada.
Kalimat itu merupakan perpaduan dari dua konsep yaitu kalimat majemuk dan kalimat bersusun.

Kalimat majemuk:
Kita tidak menghadapi musuh, tetapi (kita) harus selalu waspada.
(1) induk kalimat dan anak kalimat
(2) pernyataan yang tidak mengandung unsur subjek. Contoh : Dengan demikian akan membantu para karyawan riset, teknisi, dan peminat yang lain, terutama mahasiswa dalam melaksanakan tugasnya.
(3) pernyataan yang tidak mengandung unsur predikat. Contoh: Jalan layang itu mengatasi kemacetan lalu lintas.
(4) Pernyataan berupa anak kalimat. Contoh: Meskipun peningkatan mutu para dosen dan karyawan adalah jelas tidak identik dengan pengembangan fakultas.
(5) Pernyataan berupa unsur keterangan penjelas atau keterangan tambahan. Contoh: Baik bila kita berada di restoran, di pasar, terminal bus, maupun tempat-tempat umum lainnya.
(6) Pernyataan berupa ungkapan preposisi. Contoh: Bagi seorang peneliti, sebagai pedoman perbandingan, perlu diperhatikan kegiatan yang telah dilakukan.

E. Format Penulisan

Skripsi, paper/makalah, laporan penelitian, dan lain sebagainya, memiliki format penulisan tertentu untuk bisa disebut sebagai sebuah karya ilmiah. Uraian di bawah ini membahas format penulisan karya ilmiah berupa skripsi pada Program S-1 Pemerintahan Integratif. Namun beberapa poin penting dalam format penulisan dimaksud bisa dipakai sebagai acuan dalam penulisan karya ilmiah selain skripsi, seperti paper/makalah, artikel dalam jurnal ilmiah, dan lain sebagainya.

1. Bahan dan Ukuran Kertas
Bahan dan ukuran kertas yang dipakai dalam sebuah karya ilmiah adalah sebagai berikut:
1. Ukuran kertas: A4 (21 x 29,7 cm).
2. Jenis kertas: HVS 80 gram.
3. Kertas doorslag berwarna (sesuai dengan warna yang telah ditentukan)
dengan lambang Universitas Mulawarman sebagai pembatas.

2. Pengetikan
Ketentuan-ketentuan dalam pengetikan sebuah karya ilmiah dirinci sebagai berikut:
a. Menggunakan software pengolah kata dengan flatform Windows, seperti MS Word, Excel, dan lain-lain
b. Jenis huruf yang digunakan adalah Times New Roman dengan ukuran 12 kecuali untuk: halaman judul sampul/luar (hard cover) dan halaman judul dalam (soft cover), yang menggunakan huruf tegak (kecuali istilah asing) dan dicetak tebal (bold) dengan ukuran font mulai 12 sampai 16 (disesuaikan dengan panjang judul, lihat Lampiran). Catatan kaki (footnotes), yang menggunakan font ukuran 10.
c. Huruf tebal (bold) digunakan untuk judul dan sub-judul (sub-bab, sub-sub-bab), memberi penekanan, pembedaan, dan sejenisnya.
d. Huruf miring (italic) digunakan untuk istilah dalam bahasa asing atau bahasa daerah, memberi penekanan, pembedaan (termasuk pembedaan sub-judul yang hirarkhinya tidak setingkat), dan sejenisnya. Judul sub sub-sub-bab dibuat dengan mengkombinasikan huruf miring dan huruf tebal (italic-bold atau bold-italic). Judul sub sub-sub-sub-bab dan seterusnya dibuat dengan huruf miring biasa (italic).
e. Batas tepi (margin):
1) Tepi atas : 4 cm
2) Tepi bawah : 3 cm
3) Tepi kiri : 4 cm
4) Tepi kanan : 3 cm
f. Sela ketukan (ind3e nsi) selebar 1 cm. Indensi Tab dipakai pada baris pertama alinea baru. Indensi gantung digunakan untuk daftar pustaka.
g. Spasi bagian awal, bagian isi, dan bagian akhir:
h. Bagian awal dari karya ilmiah
Termasuk di dalamnya adalah halaman judul, halaman pengesahan, halaman pernyataan, abstrak, riwayat hidup, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar dan daftar lampiran. Spasi yang digunakan adalah:
1) Pernyataan ditulis dengan spasi tunggal.
2) Riwayat Hidup dan Kata Pengantar ditulis dengan spasi ganda.
3) Abstrak, antara 150-250 kata (dalam satu halaman) ditulis dengan menggunakan spasi tunggal.
4) Daftar Isi, Daftar Tabel, Daftar Gambar, disusun dengan menggunakan spasi tunggal.
i. Bagian isi karya ilmiah
Meliputi Bab I sampai BAB V, disusun dengan menggunakan spasi ganda.
j. Bagian akhir karya ilmiah
Terdiri dari Daftar Pustaka, yang daftar referensinya memakai spasi tunggal dan indensi gantung (jarak antar referensi dengan spasi ganda), dan Lampiran yang ditulis dengan spasi tunggal atau disesuaikan dengan bentuk/jenis lampiran.

3. Judul karya ilmiah, bab, sub bab, dan lain sebagainya:
a. Judul karya ilmiah dan bab, diketik dengan huruf besar/kapital, dicetak tebal, tanpa singkatan (kecuali yang berlaku umum seperti PT., CV.), posisinya di tengah halaman, dan tanpa diakhiri tanda titik. Perkecualiannya adalah judul pada halaman Persetujuan Seminar dan Pengesahan Skripsi (dengan huruf biasa, dicetak tebal).
b. Judul sub-bab diketik sejajar dengan batas tepi (margin) sebelah kiri dengan menggunakan huruf A, B, C, dan seterusnya. Huruf pertama setiap kata dimulai dengan huruf besar (Title Case) kecuali kata penghubung dan kata depan, tanpa diakhiri titik. Judul sub-bab dicetak dengan huruf tebal (bold).
c. Judul sub sub-bab dimulai dengan angka 1, 2, 3 dan seterusnya. Huruf pertama setiap kata dimulai dengan huruf besar (Title Case) kecuali kata penghubung dan kata depan, tanpa diakhiri titik. Judul sub sub-bab dicetak dengan huruf tebal (bold).
d. Judul sub sub-sub-bab dimulai dengan huruf a, b, c dan
seterusnya. Huruf pertama setiap kata dimulai dengan huruf besar (Title Case) kecuali kata penghubung dan kata depan, tanpa diakhiri titik. Judul sub sub-sub-bab dicetak dengan huruf tebalmiring (bold-italic).
e. Judul sub sub-sub-sub bab dimulai dengan angka 1), 2), 3) dst. (tanpa titik), dan judul sub sub-sub-sub-sub bab dimulai dengan huruf a), b), c) dst. (tanpa titik). Huruf pertama setiap kata dimulai dengan huruf besar (Title Case) kecuali kata penghubung dan kata depan, tanpa diakhiri titik. Judul sub sub-sub-sub-bab dan sub subsub- sub-sub-bab dicetak dengan huruf miring (italic).
f. Judul sub-bab, sub sub-bab, dan sub sub-sub-bab, dan seterusnya (headings hierarchy) perlu dibedakan dengan rincian poin-poin atau item-item (points/items hierarchy). Penulisan headings hierarchy dimulai dari A, B, C, lalu 1, 2, 3, kemudian a, b, c, dan seterusnya (lihat Box) dibuat sejajar dengan batas tepi kiri pengetikan (batas margin kiri). Isi atau teksnya (alinea, kalimat) juga dibuat sejajar dengan batas tepi kiri pengetikan dan awal kalimat dalam alinea baru dibuat dengan indensi 1 cm). Sementara penulisan points/items hierarchy tidak sejajar dengan batas tepi kiri pengetikan (batas margin kiri), melainkan mengikuti poin-poin/item-item dimaksud atau posisinya disesuaikan dengan memperhatikan estetika. Penggunaan angka atau huruf awal untuk poin-poin atau item-item juga disesuaikan (bisa dimulai dari 1,2,3 atau a, b, c). Penulisan headings hierarchy (sub-judul) – sejajar batas tepi kiri: Batas tepi kiri pengetikan. Contoh:

D. Judul Sub-Bab (bold)
1. Judul Sub Sub-Bab (bold)
a. Judul Sub Sub-Sub-Bab (bold-italic)
1) Judul Sub Sub-Sub-Sub-Bab (italic)
2) Judul Sub Sub-Sub-Sub-Bab (italic)

b. Judul Sub Sub-Sub-Bab (bold-italic)
1) Judul Sub Sub-Sub-Sub-Bab (italic)
2) Judul Sub Sub-Sub-Sub-Bab (italic)
a) Judul Sub Sub-Sub-Sub-Sub-Bab (italic)
b) Judul Sub Sub-Sub-Sub-Sub-Bab (italic)
2. Judul Sub Sub-Bab (bold)

E. Judul Sub-Bab (bold)
1. Judul Sub Sub-Bab (bold)
2. Judul Sub Sub-Bab (bold)
Penulisan points/items hierarchy (rincian poin-poin/item-item) – tidak sejajar dengan batas tepi kiri (masuk ke dalam, disesuaikan):
a. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang perbedaan keduanya (headings hierarchy dan points/items hierarchy) dalam sebuah teks/tulisan, lihat contohnya pada Lampiran.
b. Sepanjang memungkinkan, hindari penggunaan hirarkhi sub-judul (headings hierarchy) yang terlalu banyak tingkatannya (sub sub-subsub-bab dan seterusnya). Hal ini bisa dilakukan dengan memanfaatkan penggunaan rincian poin-poin atau item-item (points/items hierarchy).

2. Bilangan dan satuan:
a. Bilangan diketik dengan angka kecuali bilangan yang terletak pada awal kalimat yang harus dieja. Contoh: Umur mesin 10 tahun. Sepuluh perusahaan besar… dan seterusnya.
b. Bilangan desimal ditandai dengan koma (contoh: Rp1.150,25)
c. Satuan dinyatakan dengan singkatan resmi tanpa tanda titik (kg, cm, dan lain-lain)

Batas tepi kiri pengetikan, contoh:
A. Poin/Item
1. Sub-Poin/Item
a. Sub Sub-Poin/Item
1) Sub) Sub-Sub-Poin/Item
2) Sub) Sub-Sub-Poin/Item
b. Sub Sub-Poin/Item
1) Sub Sub-Sub-Poin/Item
2) Sub Sub-Sub-Poin/Item
a) Sub Sub-Sub-Sub-Poin/Item
b) Sub Sub-Sub-Sub-Poin/Item
(1) Sub Sub-Sub-Sub-Sub-Poin/Item
(2) Sub Sub-Sub-Sub-Sub-Poin/Item
(a) Sub Sub-Sub-Sub-Sub-Sub-Poin/Item
(b) Sub Sub-Sub-Sub-Sub-Sub-Poin/Item

2. Sub-Poin/Item
B. Poin/Item
1. Sub-Poin/Item
2. Sub-Poin/Item
Catatan: Poin/Item dan sub-subnya ditulis dengan huruf biasa,
Pecahan yang berdiri sendiri ditulis dengan angka, sedangkan pecahan yang bergabung dengan bilangan bulat harus ditulisdengan huruf/dieja. Contoh: tiga dua pertiga.

F. Penomoran Halaman

Ketentuan-ketentuan dalam penomoran halaman, seperti halaman-halaman awal, halaman judul bab, halaman teks utama, dan lain sebagainya, adalah sebagai berikut:
1. Bagian awal karya ilmiah (halaman judul, halaman pengesahan, halaman pernyataan, abstrak, riwayat hidup, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar, dan daftar lampiran) diberi nomor halaman dengan angka romawi kecil (i, ii, iii, dan seterusnya) dan ditempatkan di tengah bagian bawah. Halaman judul tidak diberi nomor, tetapi tetap dihitung.

2. Mulai dari BAB I sampai dengan halaman terakhir pada Daftar Pustaka diberi nomor halaman dengan angka latin (1, 2, 3, dan seterusnya). Nomor halaman ditempatkan di sebelah kanan atas, kecuali bab baru yang tidak diisi nomor halaman.

3. Data yang mendukung penelitian disajikan dalam lampiran yang disajikan menurut kelompoknya tanpa diberi nomor halaman. Contoh:

Lampiran 1. Pedoman Wawancara
Lampiran 2. Peta Desa Mahak Baru

Rangkuman
1. Kode etik penulisan karya ilmiah Kode etik adalah seperangkat norma yang perlu diperhatikan dalam penulisan karya ilmiah. Norma ini berkaitan dengan pengutipan dan perujukan, perizinan terhadap bahan yang digunakan dan penyebutan sumber data atau informasi.

2. Cara Merujuk dan Menulis Daftar Rujukan dalam karya ilmiah ada bermacam-macam. Hal tersebut dipengaruhi oleh kaidah selingkung, kutipan langsung atau tidak langsung, dan juga macam sumber yang dirujuk.

3. Unsur yang ditulis dalam daftar rujukan secara berturut-turut meliputi: (1) nama penulis dengan urutan: nama akhir, nama awal, dan nama tengah, tanda gelar akademik, (2) tahun penrrbitan, (3) judul, termasuk anak judul (subjudul), (4) kota tempat penerbitan dan (5) nama penerbit. Unsur-unsur tersebut dapat bervariasi tergantung jenis sumber pustakanya.

4. Penggunaan tabel dapat dipandang sebagai salah satu cara yang sistematis untuk menyajikan data statistik untuk menyajikan data statistik dalam kolom-kolom dan lajur, sesuai dengan klasifikasi masalah. Dengan menggunakan tabel, pembaca akan dapat memahami dan menafsirkan data secara cepat, dan mencari hubungan-hubungannya.

5. Penulisan ilmiah perlu memperhatikan format. Dala format penulisan ilmiah antara lain harus memperhatikan tentang batas tepi kanan, tepi kiri, atas dan bawah dari suatu halaman. Selain itu juga perlu memperhatikan jenis huruf yang digunakan serta penomoran.

Evaluasi
1. Apa yang dimaksud kode etik penulisan karya ilmiah
2. Buat contoh daftar pustaka yang merujuk dari buku banga rampai dan artikel dalam jurnal,
3. Jelaskan format penulisan karya ilmiah pada umumnya. Apa saja aturan yang harus diperhatikan.

DAFTAR PUSTAKA

Danial, Deni Muhammad. 2008. Menjadi Penulis Mulai Dari Sekarang. Semarang: PT Sindur press.
Danim, Sudarwan. 2002. Menjadi penelitian kualitatif: ancangan metodologi, presentasi, dan publikasi hasil penelitian untuk mahasiswa dan peneliti pemula bidang ilmu-ilmu sosial, pendidikan, dan humaniora. Bandung: CV. Pustaka setia.
Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang (2003). Panduan Bimbingan, Penyusunan Pelaksanaan Ujian, dan Penilaian Skripsi Mahasiswa.
Gie, The Liang. 2002. Terampil Mengarang. Yogyakarta: Andi.
Gunawan, Agustin Widia dkk. 2004. Metode Penyajian Karya Ilmiah. Bogor: IPB PRESS.
Hadi, Sutrisno. 2000. Bimbingan Menulis Skripsi & Thesis. Yogyakarta: ANDI
Joyomartono, Mulyono dkk. 1992. Komponen dan / atau Indikator Variabel Penelitian pada Penelitian Bahasa, Sosial, dan Budaya. Semarang: IKIP Semarang PRESS.
Nasution, S. 1992. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung: Tarsito.
Pennen, Paulina & Purwanto. 2001. Penulisan Bahan Ajar. Jakarta: PAU-PPAI-UT.
Santana, Septiawan. 2007. Menulis Ilmiah: Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Sulistiya, dkk. 1991. Metode Penelitian Ilmu Pengetahuan Sosial. Semarang: IKIP Semarang Press.
Tanjung, Nur Bahdin dan Ardian. 2005. Pedoman penulisan karya ilmiah (proposal, skripsi, dan tesis) dan mempersiapkan diri menjadi penulis artikel ilmiah.
Westra, Paridjata. 1991. Pedoman Penulisan Skripsi Berdasarkan Penelitian Empiris di Lingkungan Perguruan Tinggi. Surabaya: Airlangga University Press.
Winarto, dkk. 2004. karya tulis ilmiah sosial: menyiapkan. Memulis dan mencermatinya.
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Mulawarman. 2008. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Homepage: http://www.pin.or.id, Email: pin@pin.or.id. Diakses 23 November 2009

kembali ke METODE PENULISAN KARYA ILMIAH (1) dan METODE PENULISAN KARYA ILMIAH (2)

2 responses to “METODE PENULISAN KARYA ILMIAH (3)

  1. Ping-balik: METODE PENULISAN KARYA ILMIAH (2) « Oerleebook's Situs·

  2. Ping-balik: METODE PENULISAN KARYA ILMIAH (1) « Oerleebook's Situs·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s