Pengantar Penurunan Muka Tanah (Land Subsidence)


Penurunan muka tanah (land subsidence) merupakan suatu proses gerakan penurunan muka tanah yang didasarkan atas suatu datum tertentu (kerangka referensi geodesi) dimana terdapat berbagai macam variabel penyebabnya (Marfai, 2006).

Proses atau gerakan turunnya permukaan tanah telah banyak terjadi diberbagai wilayah di dunia terutama dikota-kota besar yang berlokasi dikawasan pantai atau dataran aluvial (endapan lepas yang tertranspor ke tempat lain atau tidak berada disekitar batuan induk dimana berukuran butiran berupa pasir dan lempung), seperti: Bangkok-Thailand (Broms, 1992), Osaka-Jepang (Osaka City Goverment, 1995), Tianjin-China (Hu et al., 2002), Yun-Lin-Taiwan (Chu and Sung, 2004), Hongkong (Liu et al., 2001), Antartika (Jezek et al., 1999), Banglades (Rahman, 1995), California-USA (Galloway et al., 1999), Jawa Timur-Indonesia (Deguchi et al., 2008), Jakarta-Indonesia (Hasannudin et al, 2007), Mexico (Allis et al., 1998), Singapura (Aritoshi et al., 2006), Kepulauan Aleutian-Salomon (Zhong Lu, 2007), Utah-USA (Chris Ukubo, 2002) dan Semarang-Indonesia (Marfai et al, 2002). Turunnya permukaan tanah yang terakumalasi selama rentang waktu tertentu akan dapat mencapai besaran penurunan sampai beberapa meter dimana dampaknya dapat merusak stabilitas perekonomian dan kehidupan sosial di wilayah tersebut.

Studi karakteristik penurunan muka tanah diperlukan dalam penentuan pola dan laju penurunan muka tanah. Hal ini diperlukan untuk penataan dan perencanaan wilayah dimana membutuhkan stabilitas wilayah dalam penempatan lokasi pembangunan dan pusat aktivitas pembangunan. Untuk itu diperlukan suatu sistem pemantauan dan pengukuran penurunan muka tanah baik secara spasial maupun non-spasial secara berkala untuk mendapatkan pengetahuan suatu wilayah secara vertikal secara baik. Pengetahuan suatu wilayah secara vertikal sangat dibutuhkan untuk menunjang pembangunan infrastruktur seperti: pembangunan gedung-gedung, pembangunan pelabuhan, pembangunan pemukiman serta pemanfaatan ruang dibawah permukaan tanah. Pemantauan titik-titik kontrol vertikal (tinggi) secara periodik pada lokasi-lokasi yang ditentukan akan menghasilkan nilai turunnya permukaan tanah sebagai akibat pengaruh deformasi vertikal pada permukaan tanah yang direpresentasikan melalui perubahan tinggi titik-titik kontrol vertikal.

Berdasarkan penelitian penurunan muka tanah sebelumnya, faktor-faktor penyebab terjadinya penurunan muka tanah, antara lain: pengambilan air tanah yang berlebihan (Burbey J.T., 2005), penurunan karena beban bangunan (Quaxiang, 2001), konsolidasi alamiah lapisan tanah (Wei,Q., 2006), gaya-gaya tektonik (Chang, C.P., 2005), ekstraksi gas dan minyak bumi (Odijk, D., 2005), penambangan bawah tanah (Rizos, C., 2007), ekstraksi lumpur (Deguchi, T., 2007), patahan lempeng bumi (Rahtje et al.,2003). Umumnya variabel dominan penyebab turunnya muka tanah ditentukan berdasarkan hasil perhitungan besaran laju penurunan tanah sudah diketahui dan dinilai signifikan. Dari sudut pandang kegeodesian, geometri turunnya permukaan tanah ditunjukkan melalui perubahan posisi vertikal muka tanah terhitung dari bidang referensi yang telah ditetapkan sebelumnya. Untuk itu dibutuhkan suatu teknik pemetaan spasial dan temporal yang mampu mengamati penurunan muka tanah secara kontinu dengan biaya yang ekonomis dan berakurasi tinggi. Untuk itu diperlukan suatu sistem yang dapat membantu menilai tingkat kerusakan suatu wilayah yang luas dalam waktu yang cepat sehingga skala prioritas pengelolaan kawasan dapat ditentukan secara efektif dan efisien (Luoto, 2002).

Teknologi penginderaan jauh (inderaja) memiliki kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap kawasan yang luas dengan waktu yang cepat (McDermid, 2005) serta terkait dengan tipikal negara Indonesia yang merupakan negara tropis (memiliki intensitas dan luas liputan awan yang tinggi). Maka pemilihan teknologi radar merupakan salah satu solusi pemetaan spasial yang tepat untuk studi penurunan muka tanah. Tentu saja, pemanfaatan teknologi radar tidak bisa terlepas dari integrasi metode-metode pengamatan penurunan muka tanah lainnya (GPS, Sipat Datar, Gravimetri dan lain sebagainya) dalam rangka meningkatkan kualitas penggunaan dan pemanfaatan citra radar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s