Sistem dan Teknologi Konstruksi


PENDAHULUAN

Tulisan berikut merupakan rangkuman yang penulis kumpulkan dari beberapa buku dalam rangka memahami dan menemukan hubungan interaksi antara Sistem dengan Teknologi serta keterkaitan Pelaku, Keahlian dan Kelembagaan yang mewadahinya. Substansi tulisan merupakan pemahaman awal penulis saat bekerja pada Deputi Konstruksi, Kantor Menteri Negara Pekerjaan Umum dahulu dan dirasakan masih sangat relevan dengan tugas-tugas di Badan Pembinaan Konstruksi dan Investasi dimana penulis bekerja sekarang mengingat tugas-tugas Deputi Konstruksi tersebut diwariskan pada badan ini.

PENGERTIAN SISTEM

Dari segi Etimologi, kata sistem sebenarnya berasal dari Bahasa Yunani yaitu “Systema”, yang dalam Bahasa Inggris dikenal dengan “SYSTEM”, yang mempunyai satu pengertian yaitu sehimpunan bagian atau komponen yang saling berhubungan secara teratur dan merupakan satu keseluruhan yang tidak terpisahkan.

Menurut filsuf Stoa, bahwa sistem adalah gabungan dari keseluruhan langit dan bumi yang bekerja bersama-sama, sehingga dapat kita lihat bahwa sistem terdiri dari unsur-unsur yang bekerja sama membentuk suatu keseluruhan dan apabila salah satu unsur tersebut hilang atau tidak berfungsi, maka gabungan keseluruhan tersebut tidak dapat lagi kita sebut suatu sistem. Berikut ini adalah definisi kata Sistem menurut beberapa para ahli.

Buckley

Sistem adalah suatu kebulatan atau totalitas yang berfungsi secara utuh, disebabkan adanya saling ketergantungan diantara bagian-bagiannya. (A whole that functions as a whole by virtue of interdependence of its parts).

H. Kerzner

Sistem adalah sekelompok komponen yang terdiri dari manusia dan/atau bukan manusia (non-human) yang diorganisir dan diatur sedemikian rupa sehingga komponen-komponen tersebut dapat bertindak sebagai satu kesatuan dalam mencapai tujuan, sasaran bersama atau hasil akhir. Pengertian ini, mengandung arti pentingnya aspek pengaturan dan pengorganisasian komponen dari suatu sistem untuk mencapai sasaran bersama, karena bila tidak ada sinkronisasi dan koordinasi yang tepat, maka kegiatan masing-masing komponen, sub-sistem, atau bidang dalam suatu organisasi akan kurang saling mendukung.

B.S. Blanchard (1990)

Engineering System adalah aplikasi yang efektif dari usaha-usaha ilmu pengetahuan dan engineering dalam rangka mewujudkan kebutuhan operasional menjadi suatu sistem konfigurasi tertentu, melalui proses yang saling terkait berupa definisi keperluan analisis fungsional, sintesis, optimasi, desain, tes, dan evaluasi.

Selanjutnya pengertian sistem ini pada kenyataannya juga dipakai untuk menunjukan banyak hal seperti:

Sistem yang digunakan untuk menunjukan suatu kumpulan dan himpunan benda-benda yang disatukan atau dipadukan oleh suatu bentuk saling hubung atau saling ketergantungan yang teratur; sesuatu himpunan bagian-bagian yang tergabungkan secara alamiah maupun oleh budi daya manusia sehingga menjadi suatu kesatuan yang bulat dan terpadu; suatu keseluruhan yang terorganisasikan atau sesuatu yang organik; atau juga yang berfungsi bekerja atau bergerak secara serentak bersama-sama bahkan sering bergeraknya itu mengikuti suatu kontrol tertentu. Contoh: Sistem tata surya, ekosistem.

Sistem yang digunakan untuk menyebut alat-alat atau organ tubuh secara keseluruhan yang secara khusus memberikan andil atau sumbangan terhadap berfungsinya fungsi tubuh tertentu yang rumit tetapi amat vital. Contoh: Sistem syaraf.

Sistem yang menunjukan sehimpunan gagasan (ide) yang tersusun terorganisasikan, suatu himpunan gagasan, prinsip, doktrin, hukum dan sebagainya yang membentuk suatu kesatuan yang logik dan dikenal sebagai isi buah fikiran filsafat tertentu, agama atau bentuk pemerintahan tertentu. Contoh: Sistem teologi, sistem pemerintahan demokrasi, sistem masyarakat islam.

Sistem yang digunakan untuk menunjukan suatu hipotesa atau teori. Contoh: Pendidikan sistematik.

Sistem yang digunakan dalam arti metode atau tata cara. Contoh: Sistem mengetik 10 jari; sistem belajar jarak jauh.

Sistem yang digunakan untuk menunjukan pengertian skema atau metode pengaturan organisasi atau susunan sesuatu atau mode tata cara. Dapat juga dalam arti suatu bentuk atau pola pengaturan pelaksanaan atau pemrosesan; dan juga dalam pengertian metode pengelompokan, pengkodifikasian dan sebagainya. Contoh: Sistem pengelompokan bahan pustaka menurut Dewey.

Dari uraian di atas pemakaian sistem dapat digolongkan secara garis besar pada dua golongan pemakaian yaitu:

Menunjukan pada suatu bentuk fisik, sesuatu wujud benda, abstrak maupun konkrit termasuk juga konsepsi yang dikenal dengan deskriptif

Menunjukan suatu metode atau tata-cara yang dikenal dengan preskriptif

Sistem paling sering digunakan untuk menunjukan pengertian metode atau cara dan sesuatu himpunan unsur atau komponen yang saling berhubungan satu sama lain menjadi satu kesatuan.

Deskriptif Preskriptif

Ini sebuah mobil. Ini seb. mobil yg bisa memberi layanan transportasi ekonomis.

Ini program investasi. Ini program investasi yang akan meningkatkan deviden

Ini perlengkapan keamanan. Ini perlengkapan keamanan yang akan mencegah kecelakaan

Contoh tersebut di atas menunjukan pada suatu wujud barang atau benda dalam pengertian deskriptif yang berlainan dengan benda yang dipergunakan dalam pengertian preskriptif yaitu sebagai suatu metode atau alat untuk mencapai sesuatu.

Konsep pengertian sistem sebagai suatu metode ini dikenal dalam pengertian umum sebagai pendekatan sistem yang merupakan penerapan metode ilmiah dalam memecahkan suatu masalah. Ada banyak penyebab atas terjadinya sesuatu masalah. Jadi pendekatan sistem menyadari adanya kerumitan di dalam kebanyakan permasalahan. Misalnya dalam kasus suatu kecelakaan mobil kita tidak bisa menganggap terjadinya kecelakaan akibat mobil dijalankan ngebut. Apabila dikaji lebih cermat banyak faktor yang dapat menjadi penyebab kecelakaan mobil. Secara singkat dapat dikatakan bahwa banyak manfaat yang kita peroleh dengan mengambil kesimpulan atau keputusan secara sistematik ini.

DEFINISI SISTEM

Adalah sehimpunan unsur yang melakukan sesuatu kegiatan atau menyusun skema atau tata cara melakukan sesuatu kegiatan pemrosesan untuk mencapai sesuatu atau beberapa tujuan dan hal ini dilakukan dengan cara mengolah data dan atau energi dan atau barang (benda) di dalam jangka waktu tertentu guna menghasilkan informasi dan atau energi dan atau barang (benda). Contoh:

Sistem Pabrik. Sekelompok orang, mesin, dan fasilitas (sehimpunan unsur) melakukan kegiatan atau bekerja untuk menghasilkan jumlah dan jenis produk tertentu dengan mendayagunakan atau mengolah atau memberlakukan persayaratan produk, jadwal, bahan mentah, dan daya listrik yang diubah menjadi daya mekanik guna menghasilkan karya, produk dan informasi yang telah direncanakan atau ditetapkan pada saat para langganan memerlukannya.

Sistem Informasi Manajemen. Sekumpulan orang, seperangkat pedoman dan alat perlengkapan pengolah data memilih, menyimpan, mengolah dan mengambil kembali data (mengolah data dan bahan) untuk mengurangi ketidakpastian di dalam pembuatan keputusan dengan menghasilkan atau memberikan informasi bagi/kepada pimpinan pada saat pimpinan tersebut bisa mempergunakannya seefisien-efisiennya.

Sistem Organisasi Usaha. Sekumpulan orang mencari dan mengolah sumber-sumber material dan informasi untuk mencapai berbagai macam tujuan bersama termasuk keuntungan ekonomi bagi perusahaan dengan menyelenggarakan pembelanjaan atau penganggaran, perancangan, memproduksi dan pemasaran guna menghasilkan produk akhir dan berhasil memasarkannya sebanyak jumlah minimum tertentu per tahunnya.

Jika diperhatikan ketiga contoh di atas, maka nampak ada unsur difinisi yang selalu ada yaitu:

Sehimpunan Unsur

Tujuan Sistem

Wujud Hasil Kegiatan atau Proses Sistem dalam Kurun Waktu

Pengolahan data dan atau Energi dan atau Bahan.

Dari uraian di atas unsur-unsur definisi dapat disusun dalam bentuk pertanyaan–pertanyaan sehingga mempermudah pemahamannya sebagai berikut:

Apakah sajakah unsur-unsur sistem itu?

Apakah tujuan sistem itu?

Apa yang dilakukan untuk mencapai tujuan itu?

Apa sajakah yang diproses oleh sistem itu?

Apa yang dihasilkan proses itu?

Apa ukuran keberhasilan proses tersebut?

Penggunaan kata Sistem dalam Pendekatan-Sistem (systems approach) sudah digunakan sejak lama di negara-negara Barat untuk menyelesaikan permasalahan dengan lebih objektif dan mendetail.

SISTEM KONSTRUKSI

Bagaimana dengan pengertian Sistem yang dikaitkan dengan Konstruksi, yang sering ditulis dengan Sistem Konstruksi. Sebenarnya kata konstruksi menurut Bahasa Indonesia lebih dekat dengan kata dari Bahasa Belanda “Konstruktie”, karena kata Konstruksi yang dimaksudkan disini adalah wujud sesuatu bangunan. Sehingga kata Konstruksi haruslah berupa kata benda. Jadi Konstruksi disini bukanlah terjemahan langsung dari Bahasa Inggris yaitu dari kata “Construction”, yang berarti pembangunan. Sehingga “Construction System” menurut Bahasa Inggris lebih tepat diterjemahkan menjadi Sistem Pembangunan yang dekat dengan pengertian “Construction Management”. Jadi yang dimaksud dengan Sistem Konstruksi disini adalah sistem bangunan atau jenis-jenis bangunan atau dalam Bahasa Inggris sebenarnya lebih tepat disebut dengan “Structural System”.

Dengan menggunakan konsep di atas maka Sistem Konstruksi dapat diartikan sebagai sekelompok orang, seperangkat pedoman dan peraturan, fasilitas, alat perlengkapan pengolah data melakukan kegiatan atau bekerja untuk menghasilkan jumlah dan jenis konstruksi tertentu dengan mendayagunakan atau memberlakukan persyaratan teknis, sumber daya alam, sumber daya manusia guna menghasilkan hasil karya dan informasi yang telah direncanakan atau ditetapkan pada saat diperlukan. Selanjutnya, Sistem Konstruksi dalam hal ini juga mengandung artikan sebagai gabungan dan kerjasama dari semua unsur Konstruksi, sehingga membentuk satu kesatuan yang kompak dan terpadu menjadi suatu bangunan untuk suatu manfaat tertentu.

Dalam hal Konstruksi Bangunan Sipil, khususnya Konstruksi Jembatan, maka yang dimaksud dengan Sistem Konstruksi adalah suatu konstruksi yang disusun oleh atau terdiri dari sub-sistem yaitu: Bangunan Atas Jembatan, Bangunan Bawah Jembatan, dan dilengkapi dengan Bangunan Pelengkap Jembatan. Selanjutnya, kalau bahasan analisa kita turunkan satu level dibawahnya yaitu dengan merinci unsur sub-sistem Bangunan Atas Jembatan maka dapatlah kita uraikan lebih jauh bahwa Bangunan Atas tersebut tersusun dari Gelagar Utama, Diafragma, Lantai-Jembatan, Trotoar, Railing-Post, dan Hand-Railing. Memper-hatikan uraian di atas dapatlah kita simpulkan bahwa setiap suatu sistem bisa kita uraikan dalam bentuk sub-sistem pada level dibawahnya. Dan secara umum suatu sistem dapat kita jabarkan dalam bentuk suatu hirarki dengan berbagai levelnya.

Marilah kita tinjau sistem dari sebuah Pohon, dimana setiap Pohon akan terdiri dari sub-sistem dibawahnya yaitu: Batang, Cabang, Ranting, Daun dan Buah serta Akar. Unsur-unsur pohon tersebut, saling bekerjasama, untuk memperoleh suatu manfaat tertentu, antara lain untuk mempertahankan hidup dan menghasilkan reproduksi. Apabila salah satu atau lebih dari unsur sub-sistem tersebut tidak bekerja atau hilang maka gabungan dari unsur-unsur yang tidak lengkap tersebut tidak dapat kita katakan sebagai sebuah sistem.

Pada suatu sistem yang lebih kompleks misalnya Manusia, dapatlah kita lihat suatu hirarki sebagai berikut: Manusia secara utuh dan lengkap dapat kita sebut sebagai level-1. Selanjutnya sub-sistem yang langsung berada dibawahnya yaitu pada level-2, dapat kita uraikan menjadi Kepala, Tubuh dan Anggota Badan. Selanjutnya apabila kita teliti lebih jauh pada level sub-sistem berikutnya yaitu pada level-3, maka Kepala dapat pula kita uraikan lebih jauh yaitu terdiri dari Mata, Telinga, Mulut, Hidung, dan Wajah. Dan seterusnya pada level-4 dapat diuraikan lagi lebih lanjut yaitu untuk Telinga dapat dirinci lebih jauh menjadi: Daun-Telinga, Lubang-Telinga, Saluran Eustachius dan Gendang-Telinga.

Kalau kita melihat sistem tersebut dengan keterkaitannya kepada dukungan dari unit lain, maka pada tatanan yang mempunyai level sistem yang sama yaitu Teknologi Konstruksi, Keahlian Konstruksi, Kelembagaan Usaha Konstruksi dan Jasa Konstruksi, maka akan kita temui suatu kumpulan sistem yang disebut “BIDANG KONSTRUKSI”. Lebih jauh kalau kita melihat pada tatanan yang lebih tinggi yang dikenal dengan sebutan “Supra-Sistemnya”, maka akan kita temui suatu sistem yang cakupannya lebih luas dan lebih menyeluruh, misalnya suatu ruas jalan tertentu dapat kita sebut sebagai Supra-Sistem dari jembatan yang terletak pada ruas tersebut, selanjutnya ruas jalan tersebut dapat pula kita namakan dengan sub-sistem dari suatu sistem jaringan jalan yang lebih luas.

Selanjutnya sistem jaringan jalan ini, dapat pula kita sebut sebagai sub-sistem dari moda-transportasi darat, dimana moda transportasi darat ini dapat pula kita nyatakan menjadi sub-sistem dari sistem transportasi nasional yang mencakup seluruh moda transportasi yang ada yaitu transportasi darat, transportasi laut, dan transportasi udara.

SISTEM KONSTRUKSI JEMBATAN

Sebelum membahas apa yang dimaksud dengan Sistem Konstruksi Jembatan, akan dijelaskan terlebih dahulu definisi jembatan. Jembatan adalah suatu Konstruksi yang dibangun untuk melewatkan suatu massa atau traffic lewat atas suatu penghalang. Selanjutnya macam-macam penghalang, atau jenis penghalang, dapat terdiri dari: Sungai, Jalan Raya, Laut, Waduk, Jalan Kereta api, dan lain sebagainya. Apabila konstruksi tersebut kita bangun lewat bawah suatu penghalang, maka jenis konstruksi tersebut umumnya dapat kita sebut sebagai Terowongan, Under-pass atau Tunnel.

Dalam bahasan berikut ini kita akan membahas secara lebih mendetail mengenai Sistem Konstruksi Jembatan, pertama-tama harus kita bahas terlebih dahulu soal sebutan atau penamaan Jembatan, misalnya apakah yang dimaksud dengan Sistem Konstruksi Jembatan Rangka Baja. Pemberian nama jembatan biasanya mengikuti kesepakatan dari penggunaan jenis Konstruksi Utama yang digunakan dan jenis material jembatannya. Dalam hal ini, jenis Konstruksi Utamanya adalah terdiri dari konstruksi rangka dengan jenis material baja.

Selanjutnya yang dimaksud dengan Konstruksi Jembatan Gantung Baja, adalah suatu Konstruksi Jembatan yang mengandalkan Konstruksi Utamanya terdiri dari Kabel Penggantung yang umumnya terdiri dari jenis material baja. Sedangkan yang dimaksud dengan Jembatan Cable-Stayed ialah suatu konstruksi jembatan yang menggunakan kabel yang diregangkan lurus, atau dicancangkan dalam memikul beban utama konstruksi.

Sistem Bangunan Atas Jembatan yang telah diteliti dan dikembangkan selama bertahun-tahun, termasuk pengembangan tipe-tipe Konstruksi Bangunan Atas, jenis material, nilai ekonomis, panjang jembatan yang mungkin dicapai, telah menghasilkan suatu kesimpulan berupa suatu konsep yang dikenal dengan sebutan “Bentang Ekonomis Jembatan”. Selanjutnya, yang dimaksud dengan Bentang Ekonomis suatu jembatan ialah bentang yang paling ekonomis untuk suatu tipe konstruksi jembatan dengan jenis material tertentu, sebagaimana diuraikan seperti berikut ini:

Tipe Flat Slab, untuk bentang: 5m-15m

Tipe Gelagar, untuk bentang: 10m-25m

Tipe gelagar Prestressed I Section: 15m-40m

Tipe gelegar Box Prismatic Section: 30m-60m

Tipe Box Free Cantilever Sistem: 60m-200m

Tipe Pelengkung untuk bentang: 50m-250m

Tipe Rangka untuk bentang: 40m-400m

Tipe Cable-Stayed untuk bentang: 250m-1000m

Tipe Gantung untuk bentang: 100m-2000m

Tipe Hybrid (Gantung plus Cable-stayed): 1500m-3500m

BI-Stayed (pengembangan Cable-Stayed)

Dengan memperhatikan Konsep Bentang Ekonomis tersebut di atas kita dapat dengan mudah untuk memutuskan untuk suatu lebar sungai tertentu, berapa panjang bentang sebuah jembatan yang paling ekonomis, sehingga penghematan biaya pembangunan jembatan tersebut dapat kita peroleh paling tidak penghematan biaya untuk biaya Bangunan Atas sudah dapat langsung kita terapkan. Lebih jauh lagi dengan mempelajari Sistem Konstruksi Bangunan Bawahnya dapat pula kita pilih dan kemudian kita putuskan tipe bangunan yang paling ekonomis tentu saja dengan telah mempertimbangkan pula pilihan jenis pondasi yang paling sesuai dilihat dari segi ekonomisnya pula.

Kombinasi pemilihan tipe Bangunan Bawah Jembatan sebenarnya relatif lebih sulit dikarenakan tipe bangunan bawah terutama tipe atau jenis Pondasinya yang relatif bervariasi cukup banyak, karena penentuan tipe dan jenis pondasi tersebut akan sangat tergantung kepada jenis dan besarnya beban serta kombinasi beban yang bekerja, tentu saja pertimbangan lain yang tidak kalah pentingnya, yaitu unsur tanahnya, dengan mempertimbangkan pula kekuatan daya dukung serta struktur geologinya, kedalaman tanah keras dan tentu saja juga tergantung pula kepada dalamnya sungai atau dalamnya laut apabila kebetulan konstruksi jembatan yang kita tinjau tersebut terletak di laut, sedemikian apabila kita ingin membuat sebuah standar dalam bentuk konsep yang serupa yaitu Tipe-Pondasi yang paling ekonomis, tentu akan cukup rumit mengingat banyaknya variasi yang harus kita pertimbangkan pula.

Berikut dibawah ini dapat dilihat uraian secara lengkap sistem konstruksi jembatan menurut hirarkinya sebagai berikut:

PENILAIAN TERHADAP SISTEM

Suatu sistem dapat kita katakan optimum apabila semua unsur-unsur yang mendukung sistem tersebut juga mencapai nilai optimum, di atas telah kita bahas beberapa unsur yang mendukung terwujudnya suatu sistem yang optimum yaitu:

Teknologi Konstruksi

Keakhlian Konstruksi

Kelembagaan Konstruksi

Jasa Konstruksi.
Selain keempat unsur utama tersebut di atas, maka ada beberapa unsur lainnya yang tidak kalah pentingnya untuk turut pula menjadi pertimbangan secara tersendiri disini, meskipun bahasan dari beberapa unsur tersebut dapat pula kita bahas secara implisit di dalam masing-masing unsur tersebut. Unsur-unsur penting lainnya tersebut adalah sebagai berikut:

Efektif-Efisien

Ekonomis

Financial-viable

Durability, kesesuaian dengan umur rencana

Azas-Manfaat, keberpihakan kepada Publik

Sistem Integrasi, terhadap sistem-sistem lain di lingkungannya

Dan lainnya (Lingkungan hidup, dlsb).

Keseluruhan unsur-unsur di atas haruslah menjadi pertimbangan untuk melakukan penilaian terhadap suatu sistem konstruksi, apakah sistem tersebut optimum atau tidak, yang menjadi masalah lebih lanjut adalah, pemberian bobot terhadap masing–masing unsur. Apakah akan kita beri bobot yang sama ataukah dengan bobot yang berbeda, menurut common–sense seharusnya bobot untuk masing-masing unsur tersebut harusnya tidak sama, tergantung kepada tingkat kepentingan dari masing-masing unsur yang ditinjau, jadi sangat tergantung kepada tingkat Intervention–Policy yang kita tetapkan. Pada kondisi normal dapat kita katakan bahwa pemberian bobot tersebut dapat diambil sama, jadi untuk menentukan besarnya bobot penilaian dari masing-masing unsur tersebut sebaiknya diambil berdasarkan konsensus kebijakan yang kita tetapkan bersama.

Pemberian besaran masing-masing bobot tersebut biasanya mengikuti kesepakatan yang biasa berlaku yaitu menggunakan 5 level yaitu Sangat Penting, Penting, Biasa, Kurang Penting, Tidak Penting, atau menggunakan Sistem 3 level, yaitu Penting, Biasa, Tidak Penting. Dalam bentuk rating biasanya nilai-nilai tersebut di atas biasanya dinyatakan dalam bentuk angka nominal yaitu untuk sistem 5 level, dalam bentuk 5,4,3,2,1, sedangkan untuk sistem 3 level, dalam bentuk 5,3,1. Selanjutnya untuk lebih mudah dan jelas sebaiknya kita lakukan simulasi penilaian ini langsung dalam bentuk nominal secara kuantitatif. Misalnya di bawah ini akan kita bandingkan konstruksi jembatan baja versus jembatan beton di ruas jalan Pantura antara Jakarta – Surabaya.

Dapat kita simpulkan disini bahwa ternyata jembatan beton lebih unggul kalau kita bandingkan dengan jembatan baja. Kalau kita uraikan lebih jauh atas dasar apa kita menetapkan nilai-nilai rating tersebut di atas, berikut ini dijelaskan secara rinci.

TEKNOLOGI KONSTRUKSI

Pengertian Teknologi sebenarnya berasal dari kata Bahasa Perancis yaitu “La Teknique“ yang dapat diartikan dengan ”Semua proses yang dilaksanakan dalam upaya untuk mewujudkan sesuatu secara rasional”. Dalam hal ini yang dimaksudkan dengan sesuatu tersebut dapat saja berupa benda atau konsep, pembatasan cara yaitu secara rasional adalah penting sekali dipahami disini sedemikian pembuatan atau pewujudan sesuatu tersebut dapat dilaksanakan secara berulang (repetisi).

Berbeda kalau kita membahas tentang suatu produk-seni yang mana proses pembuatannya dilaksanakan secara intuitif jadi tidak secara rasional, sedemikian sehingga karya seni tersebut tidaklah dapat dikatagorikan sebagai suatu produk teknologi. Kalau bahasan wacana ini dikembangkan secara lebih jauh maka kata Teknologi ini biasanya mempunyai pasangan kata yang populer yaitu Science, jadi pasangan kata Science dan Teknologi. Sesungguhnya kata Science ini lebih dekat dengan jawaban kata “WHY”, selanjutnya kata Teknologi dilain pihak sangat dekat dengan pengertian kata jawaban dari “HOW”.

Kalau kita bandingkan penguasaan Teknologi Konstruksi Baja dengan Konstruksi Beton secara umum dapat kita ketahui, bahwa berdasarkan pengalaman selama ini bahwa teknologi pembuatan konstruksi beton lebih banyak dikuasai oleh bangsa kita, apabila dibandingkan dengan teknologi baja, hal ini dikarenakan bahwa semua unsur material pembuat beton banyak tersedia di Pulau Jawa, karena itu maka nilai rating konstruksi beton kita tetapkan dengan nilai 5, sedangkan untuk konstruksi baja kita tetapkan dengan nilai 3.

Selanjutnya kalau kita berikan penilaian terhadap keahlian konstruksi, maka dapat kita ketahui dengan jelas bahwa banyaknya tenaga terampil dan tenaga ahli yang bergerak dibidang pembuatan konstruksi beton lebih banyak dan lebih mudah ditemukan bila dibandingkan dengan, tenaga terampil dan tenaga ahli dibidang konstruksi baja, jadi dapat kita simpulkan disini bahwa nilai rating untuk konstruksi beton pasti lebih tinggi bila dibandingkan dengan konstruksi baja, karena itu kita putuskan nilai untuk beton kita ambil 5 dan untuk konstruksi baja kita ambil nilai 3.

KELEMBAGAAN USAHA

Kalau dilakukan juga penilaian terhadap ada atau tidaknya lembaga usaha yang mampu melaksanakan pekerjaan suatu jenis konstruksi, maka yang perlu diketahui disini adalah apakah kualifikasi dari suatu badan usaha tersebut sudah memenuhi kriteria yang ditetapkan ditinjau dari segala aspeknya, apakah sudah ada sertifikasi yang sesuai untuk kualifikasi tersebut dan lain sebagainya.

JASA KONSTRUKSI

Penilaian terhadap sistem apabila dilihat dari sudut Jasa Konstruksi, tentu saja akan melibatkan penilaian apakah pelaksanaan Jasa Konstruksi di Indonesia telah mempunyai suatu landasan Hukum yang kuat, juga apakah pelaksanaan jasa konstruksi disini telah berdasarkan prinsip Market-Oriented. Jadi telah menterapkan sistem persaingan bebas sedemikian sehingga jaminan keamanan terhadap pelaksanaan jasa konstruksi dapat berkembang berdasarkan prinsip persaingan bebas, yang memungkinkan dunia usaha dibidang Jasa Konstruksi ini betul-betul akan hidup dan berkembang secara sehat berdasarkan prinsip-prinsip di atas dan didukung oleh pengembangan Professionalisme.

Dalam hal perbandingan Sistem Konstruksi Baja apabila kita bandingkan dengan Sistem Konstruksi Beton akan dapat ditarik kesimpulan berdasarkan kenyataan yang ada maka pelaksanaan konstruksi beton akan lebih mudah dan lebih disukai dibandingkan dengan pelaksanaan Konstruksi Baja, kerena itu penetapan besarnya nilai rating yang diambil adalah paralel dengan hal tersebut diatas yaitu nilai 5 untuk konstruksi beton dan nilai 3 untuk konstruksi baja.

Penilaian selanjutnya akan ditujukan kepada nilai-nilai Eksternal yaitu efektif, ekonomis, durability, manfaat, integrasi terhadap sistem lain dan tingkat gangguannya terhadap lingkungan hidup.

EFEKTIVITAS

Kalau kita melihat sejauh mana suatu konstruksi itu akan mempunyai tingkat nilai yang efektif, tentu saja harus diketahui proses pembuatannya dan pemasangan bahan tersebut sampai menjadi suatu bangunan, apakah pada setiap tahapan proses tersebut telah diterapkan syarat-syarat efektivitas tersebut dan apakah pada setiap proses tersebut telah pula diterapkan prinsip-prinsip kontrol kualitas secara ketat, untuk itu kalau kita bandingkan proses pembuatan dan pelaksanaan Konstruksi Baja apabila kita bandingkan dengan proses pembuatan dan pelaksanaan Konstrusi Beton maka dengan mudah dapat diketahui bahwa jaminan tingkat efektivitas dari konstruksi baja akan lebih unggul bila dibandingkan dengan konstruksi beton karena itu penetapan besarnya nilai rating dapat diambil sebagai berikut yaitu untuk baja diambil nilai 5 sedangkan untuk beton dtetapkan nilai 3.

EKONOMIS

Penilaian tentang ekonomis atau tidaknya suatu proyek haruslah dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip pertimbangan ekonomis suatu proyek antara lain prinsip Benefit-Cost Ratio yaitu suatu prinsip yang dikembangkan berdasarkan penghitungan besarnya biaya yang akan dikeluarkan oleh proyek tersebut. Selanjutnya kita bandingkan dengan besarnya manfaat yang akan diperoleh apabila proyek tersebut sudah berfungsi. Selain prinsip tersebut ada lagi metode lainnya yaitu berdasarkan prinsip Internal-Rate of Return yang dikembangkan atas dasar prinsip diskonto terhadap pengembalian dari investasi yang ditanamkan, kadang-kadang prinsip ini sering juga disebut dengan prinsip Net Present Value. Ada lagi cara lainnya yaitu dengan prinsip pengembalian Investasi yaitu dengan prinsip W.A.C.C. Dengan menggunakan prinsip-prinsip di atas dapat kita lihat atau diukur berapa tingkat ekonomisnya suatu proyek tersebut.

Dalam hal membandingkan tingkat ekonomis konstruksi baja bila dibandingkan dengan konstruksi beton maka secara umum konstruksi Beton sedikit lebih hemat dibandingkan dengan konstruksi Baja, untuk daerah tertentu misalnya di Pulau Jawa. Sedangkan untuk daerah lainnya misalnya di Pulau Kalimantan maka Konstruksi baja bisa sedikit lebih murah bila dibandingkan dengan Konstruksi Beton, karena itu untuk penilaian ratingnya dapat diambil sama.

UMUR RENCANA

Penilaian terhadap besarnya umur rencana suatu proyek umumnya telah ditetapkan pada waktu proses perencanaannya, jadi biasanya setiap proyek tersebut telah dihitung terlebih dahulu berapa prediksi umur yang akan dicapai apabila proyek tersebut dibangun, kemudian dimensi proyek tersebut baru dihitung sesuai dengan umur yang telah ditetapkan tersebut selanjutnya besar nilai proyek tersebut lalu dihitung berdasarkan dimensi tersebut bila kita kalikan dengan harga satuan dari masing-masing unit-price pekerjaan yang akan dilakukan tersebut. Umur rencana ini tentu saja perlu dikaitkan pula dengan pemeliharaan dari proyek tersebut, mengingat bertahannya suatu proyek tidak terlepas dari biaya pemeliharaan yang kita anggarkan. Semua biaya yang dikeluarkan mulai dari biaya perencanaan sampai dengan biaya pemeliharaan itu umumnya disebut dengan Life-Cycle Cost. Jadi yang penting ditekankan disini adalah apakah Performance Indicator yaitu umur rencana itu dapat dicapai atau tidak, namun menurut pengalaman yang ada banyak proyek yang tidak mencapai umur rencana yang ditetapkan. Dalam hal pengambilan contoh rating ini dapat diambil untuk Beton yaitu sebesar 5 sedangkan untuk baja diambil nilai 3, mengingat biaya pemeliharaan beton lebih murah dibandingkan dengan beton.

MANFAAT

Pemberian penilaian terhadap manfaat yang akan diperoleh masyarakat akibat adanya suatu proyek dapat kita bedakan dengan perolehan manfaat langsung dan manfaat tidak langsung, dalam hal manfaat langsung sesungguhnya telah ditetapkan lebih dahulu pada awal pembuatan Studi-Kelayakan Proyek tersebut. Kita ambil misal untuk proyek jembatan, sebelum proyek tersebut dibuat tentu terlebih dahulu telah dilakukan kajian ekonomis apakah proyek tersebut cukup ekonomis atau tidak, salah satu tolok ukur tersebut adalah melakukan prediksi, berapa jumlah traffic yang akan lewat pada jembatan tersebut untuk suatu periode tertentu sampai tercapai suatu umur rencana atau selama masa pelayanan dari konstruksi tersebut. Dalam hal ini apabila kita bandingkan manfaat langsung dari kedua macam konstruksi tersebut, tentu saja akan menghasilkan nilai yang sama. Lain lagi kalau penilaian tersebut dilanjutkan kepada penilaian terhadap manfaat tidak langsung misalnya kemungkinan kesempatan kerja, tentu saja akan menghasilkan nilai yang berbeda. Tapi dalam kesempatan ini sebaiknya pembahasan ini dibatasi saja terlebih dahulu dengan penilaian terhadap manfaat langsung.

Melakukan penilaian yang lengkap terhadap kajian manfaat dari suatu proyek konstruksi sebenarnya tidaklah terlalu mudah dikarenakan harus melibatkan banyak fihak antara lain publik. Kalau sudah berhadapan dengan publik dalam jumlah yang cukup mewakili maka haruslah diadopsi suatu sistem penelitian yang dikembangkan berdasarkan suatu sistem angket atau beberapa cara lain yang dilaksanakan berdasar prinsip-prinsip statistik melalui proses jajak pendapat yang lengkap, kita akan memperoleh hasil penelitian yang lengkap.

INTEGRASI SISTEM

Pembahasan mengenai terintegrasinya suatu sistem konstruksi yang ditinjau haruslah dilihat secara keseluruhan apakah ada terdapat banyak konstruksi yang sejenis yang telah dibangun disekitar daerah sistem konstruksi yang kita tinjau kemudian haruslah diteliti sejauh mana keterkaitan dari masing-masing sistem konstruksi yang telah ada dan harus juga dilihat sejauh mana potensi keterkaitan sistem konstruksi tersebut dimasa depan. Atas dasar kesemuanya itu dapatlah disimpulkan seberapa jauh tingkat ketergantungan sistem tersebut satu sama lain dan atas dasar hal tersebut di atas dapatlah diperoleh tingkat efisiensi tertentu yang dapat dicapai bila dibandingkan dengan hanya sebuah single sistem saja yang kita terapkan, hal ini dapat dengan mudah kita pahami yaitu pembelian suatu barang secara Grossir tentu akan lebih hemat bila dibandingkan membeli secara eceran.

Dalam hal ini secara umum maka konstruksi beton akan lebih mudah terintegrasi dengan sistem konstruksi lainnya yang menggunakan bahan beton apabila dibandingkan dengan sistem konstruksi baja karena itu adalah wajar kalau rating untuk beton diambil lebih besar yaitu sebesar 5, bila dibandingkan dengan konstruksi baja yaitu 3.

MASALAH LINGKUNGAN

Dalam hal penilaian terhadap masalah lingkungan ini, maka akan dapat dikembangkan secara lebih luas dan lengkap bila dalam kesempatan ini dibahas pula masalah dampak kerusakan lingkungan yang dapat terjadi pada suatu lingkungan proyek, namun mengingat dalam kesempatan ini hanya akan dilihat secara garis besarnya saja, maka dapat dengan mudah kita tentukan bahwa tingkat kerusakan lingkungan yang ditimbulkan oleh Sistem konstruksi beton akan lebih mencemari lingkungan mengingat umumnya jenis konstruksi ini akan memanfaatkan sebesar-besarnya penggunaan material setempat semisal batu, pasir, dan air yangdigunakan sebagai bahan pembuat beton, karena itu penetapan besarnya nilai rating yaitu sebesar 5, untuk konstruksi baja adalah wajar bila dibandingkan dengan nilai 1.

Dari uraian di atas dapatlah diperoleh semua faktor penentu penilaian terhadap suatu sistem yang ditinjau dimana semua faktor-faktor penentu tadi dapat disebut dengan sebutan lain yaitu dikenal sebagai “Performance Indicator” yaitu faktor-faktor yang kita tetapkan untuk menilai sejauh mana performance suatu sistem yang ditinjau itu bekerja dengan benar, jadi suatu kebijakan yang baik itu tentulah suatu kebijakan yang diambil berdasarkan kriteria-kriteria tertentu yang disepakati bersama. Disamping ini ada pula suatu penilaian yang dikembangkan untuk menilai suatu Policy yang telah dilaksanakan sebelumnya tentu saja penilaian yang dilakukan disini adalah berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya apakah Performance yang dicapai telah sesuai atau tidak bila dibandingkan dengan kriteria yang telah ditetapkan semula, apabila ternyata tidak tercapai maka haruslah ditelusuri kira-kira faktor-faktor yang menjadi penyebab utama dari penyimpangan-penyimpangan tersebut, untuk kemudian dapat dihindari dikemudian hari, selanjutnya kalau kita masukkan kriteria-kriteria baru sebagai Performance Indicator yang baru hal ini dimungkinkan sebagai bentuk penajaman penilaian dimasa datang.

Lebih jauh lagi akan lebih mudah melakukan penilaian terhadap kebijakan suatu Sistem Konstruksi ini haruslah dikembangkan kumpulan-kumpulan database dari masing-masing Indikator Penilaian yaitu database tentang Sistem Konstruksi, Teknologi Konstruksi, Keahlian Konstruksi, database tentang Harga Satuan, selanjutnya juga database tentang Sistem Konstruksi di suatu lokasi dan lain sebagainya. Atas dasar database tersebut, maka akses untuk melakukan penilaian terhadap suatu sistem konstruksi akan dapat dengan mudah dilakukan, sedemikian dasar-dasar pengambilan kebijakan yang baik dapat diambil dan ditetapkan, dan pada langkah lebih lanjutnya tentulah hasil kebijakan tersebut akan bernilai optimum dan akan bermanfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat banyak

Oleh: Ir. Herry Vaza, MEngSc
Kepala Bidang Rencana dan Evaluasi
Pusat Penilaian Mutu Konstruksi
BAPEKIN, KIMPRASWIL

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s