Penelitian Struktur Jembatan SS Tomang dan SS Pluit Pada Jalan Tol Dalam Kota


Beberapa hari yang lalu, saya mendapat disposisi untuk menghadiri presentasi penelitian dari Konsultan. Presentasi tersebut diadakan di cabang dan melibatkan divisi pemeliharaan pusat, bagian pemeliharaan cabang serta PT Lapi Ganeshatama selaku Konsultan.

Presentasi tersebut membahas mengenai penelitian yang dilakukan Konsultan terkait dengan kondisi dan masa layan dari Ramp A&B Jembatan Tomang, serta Jembatan Pluit.

Sebagai gambaran, struktur eksisting (Gelagar) Jembatan tersebut menggunakan Baja dengan tipe penampang gelagar yang berbeda antara Ramp A dan Ramp B. Arahan dari penelitian tersebut adalah meninjau aspek layan dari struktur, sehingga tindakan antisipasi dalam bentuk perbaikan dan perkuatan dapat dilakukan sedini mungkin oleh kami sebagai pengelola Jalan Tol.

Sedikit intermezo, terlepas dari masalah penelitian, ada hal yang menarik pada presentasi kali ini. Kondisinya adalah panelis yang mempresentasikan hasil penelitian tersebut, tiada lain adalah Dosen saya sendiri, yang dahulu saya kagumi.

Saya masih ingat betul. 2 tahun yang lalu, saya mempresentasikan hasil kerja praktek saya di depan beliau dan sekarang, kondisinya adalah saya berbalik menjadi pendengar beliau presentasi.

Namun, tetap saja, menurut saya, Beliau adalah dosen terbaik saya. Sedikit terlihat subjektif memang, namun nyatanya hasil dari penelitian tersebut cukup memetakan kondisi struktur bangunan kami.

Lingkup penilitian yang dilakukan oleh Dosen saya beserta timnya adalah melakukan analisis struktur dengan bantuan program analisis SAP dan kemudian melakukan pengujian Fatigue bangunan serta pengujian dinamik Jembatan Pluit.

Analisis Struktur

Pada saat melakukan analisis struktur, permodelan geometrisnya diambil dari gambar perencanaan dan pengamatan langsung dilapangan. Sementara permodelan pembebanannya, diambil dari standar pembebanan termasuk didalamnya beban layan (beban sendiri, serta beban lalu lintas) ditambah asumsi konservatif berupa konfigurasi pembebanan dari Bridge Management System, Departemen PU tahun1992. Input ini kemudian di analisis menggunakan program SAP2000 versi 9.03.

Hasil dari analisis struktur ini menunjukkan hasil displacement vertikal max

* displacement vertikal max sebesar 68,95 mm untuk Ramp A
* displacement vertikal max sebesar 55,95 mm untuk Ramp B

Menurut standar BMS-PU,1992 dapat disimpulkan bahwa hasil tersebut diatas masih ‘OK’ karena displacement vertikal max masih dibawah ambang yakni L/800.

Selain itu, keseluruhan dari hasil analisis menunjukkan bahwa nilai rasio kekuatan < 1 untuk seluruh elemen.

Pengujian Fatigue

Tujuan dari pengujian ini adalah mengestimasi umur Fatigue Jembatan Tomang Ramp A dan B. Metodologi yang Dosen saya gunakan adalah pertama, melakukan pengukuran regangan kemudian mengkarakterisasikan rentang tegangan yang terjadi akibat beban hidup. Kedua, melakukan identifikasi jumlah kejadian untuk setiap rentang tegangan kritis setiap harinya. Dan selanjutnya melakukan perhitungan indeks kerusakan kumulatif harian sehingga umur Fatigue dapat diestimasi.

Pengukuran regangan dilakukan dengan memasang Strain Gauge pada pelat jembatan. Dan Hasil dari analisis ini didapatkan ;

* Umur Fatigue untuk Ramp A = 64 tahun
* Umur Fatigue untuk Ramp B = 70 tahun

Pengujian Dinamik Jembatan Pluit

Sementara itu, pengujian dinamik Jembatan Pluit dilakukan dengan cara membandingkan antara hasil perhitungan teoritis dengan hasil pengukuran dilapangan menggunakan alat yang dinamakan Akselerometer. Tujuannya adalah mendapatkan karakteristik dinamik (Frekuensi) struktur jembatan dan memperoleh gambaran mengenai kondisi kekakuan struktur.

Hasil yang didapatkan frekuensi hasil pengukuran dengan frekuensi teoritik adalah hampir sama.

Frekuensi tertinggi struktur jembatan pluit bernilai 4,84 Hz dan 4,58 Hz. Sementara frekuensi alami teoritis yang dihitung dari dimensi struktur sebesar 4,79Hz.

Hasil ini menunjukkan bahwa frekuensi alami struktur masih sesuai dengan kondisi awal dan kekakuan struktur jembatan dapat dianggap masih memadai sesuai dengan kekakuan yang direncanakan.

Pengukuran Ketebalan Sisa

Disamping itu juga dilakukan pengukuran ketebalan sisa yang bertujuan mengetahui ketebalan sisa pelat baja pada jembatan Tomang Ramp A dan Ramp B.

Pengukuran tebal pelat baja box girder ini menggunakan Ultrasonic Thickness Gage (UTG).

Data ini kemudian dapat digunakan sebagai masukan untuk pengecekan keamanan struktur jembatan.

sumber dari : http://sagabanget.wordpress.com/2009/12/04/penelitian-struktur-jembatan-ss-tomang-dan-ss-pluit-jalan-tol-dalam-kota/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s