Arsip Tag: Semen
Lumpur Lapindo Jadi Bahan Pengganti Semen
Diam-diam Institut Teknologi Surabaya (ITS) telah melakukan kajian mendalam tentang pemanfaatan Lumpur Panas Sidoarjo (Lusi) atau Lumpur Lapindo. ITS yang sejak awal selalu peduli dengan pemecahan permasalahan Lusi itu kini menyiapkan seorang dosennya untuk menyusun disertasi doktornya tentang pemanfatan Lusi. Inilah yang kini sedang dilakukan Januarti Jaya Ekaputri, dosen Jurusan Teknik Sipil.
Yani, panggilan akrab Januarti Jaya Ekaputri, mengajukan bahan disertasi dengan usulan menjadikan Lusi sebagai bahan pengganti semen.
”Judul itu diajukan karena saya melihat kandungan kimia pada Lusi sama persis dengan `flay ash`, limbah dari hasil pembakaran batu bara. Lalu saya terpikir, kenapa tidak saya coba saja pada lumpur panas sidoarjo, agar bisa bermanfaat,” katanya.
Bersama Prof Triwulan, Yani selama ini telah mencoba melakukan penelitian alternatif pengganti semen dengan menggunakan `flay ash`. Hasilnya cukup baik, bisa mencapai kekuatan 50 sampai 60 MPA, sekelas beton mutu tinggi, sebagai beton geo polimer.
”Perbedaan lumpur dengan flay ash setelah saya pelajari hanya pada sifat fisik yang pada lumpur tidak bisa serta merta dicampurkan begitu saja, tapi harus ada bahan kimia sebagai aktifator,” katanya.
Dijelaskannya, dari hasil kajian selama ini, beberapa sifat dari lumpur Lapindo itu tidak reaktif atau tidak gampang mengikat, berbeda dengan flay ash yang justru punya sifat sebaliknya.
”Pada lumpur Lapindo, saat dilakukan perlakuan atau pengadukan terjadi pengentalan yang sangat cepat, tapi sulit mengering. Ini menjadi fenomena menarik, sehingga harus ada sesuatu yang perlu ditambahkan sebagai aktifator, sehingga sifatnya menyamai flay ash,” katanya.
Jika nanti lumpur Lapindo sudah bisa dibuat seperti flay ash, maka sangat mungkin bisa dijadikan sebagai pengganti semen. Ini yang saya lakukan dalam penelitian sebelumnya untuk memanfaatkan flay ash sebagai pengganti semen, dimana dalam waktu 28 hari kekuatan beton telah mencapai sempurna, dengan usia 7-14 hari telah mendekati stabil.
Disertasinya sendiri rencananya akan dilakukan di The University of Tokyo. ”Memang ada dua perguruan tinggi yang merespon proposal penelitian disertasi saya, satu dari perguruan tinggi di Taiwan, dan satunya dari Jepang. Saya telah memilih The University of Tokyo. Juli nanti mungkin saya berangkat,” katanya.
Alasan dipilihnya The University of Tokyo ini juga kata Yani, selain ia memperoleh beasiswa dari Hitachi Scholarship Foundation (HFS), sebuah lembaga bantuan beasiswa milik Hitachi, Ltd, Jepang, juga promotor yang ada di perguruan tinggi itu, Prof Koichi Maekawa, adalah salah seorang guru besar yang memang cukup terkenal di tingkat dunia berkait dengan ilmunya dibidang material bangunan.
”Jadi apa salahnya jika saya bersama-sama melakukan penelitian disertasi saya dengan beliau, sekaligus untuk mengangkat nama ITS di tingkat dunia,” katanya.
Di perguruan tinggi ini telah dikembangkan material dari sampah pengganti semen sebagai alternatif bagi dunia konstruksi, yang disebut dengan eco-cement, sehingga kemungkinan berbagai peralatan di laboratoriumnya akan sangat membantu untuk merealisasikan penelitian yang berkait dengan upaya pemanfaatan Lumpur Lapindo sebagai salah satu pengganti semen.
”Saya berharap jika penelitian ini berhasil, orang kemudian tidak akan pusing lagi bagaimana harus membuang lumpur di Sidoarjo itu, tapi malah sebaliknya mereka akan mencoba untuk memenfaatkannya semaksimal mungkin. Inilah sesungguhnya harapan saya ke depan,” katanya. (Humas ITS/lily)
sumber dari : http://www.rileks.com/entertainment/ragam/omg/2142-lumpur-lapindo-jadi-bahan-pengganti-semen.html
Semen
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Semen di dalam ember.
Dalam perkembangan peradaban manusia khususnya dalam hal bangunan, tentu kerap mendengar cerita tentang kemampuan nenek moyang merekatkan batu-batu raksasa hanya dengan mengandalkan zat putih telur, ketan atau lainnya. Alhasil, berdirilah bangunan fenomenal, seperti Candi Borobudur atau Candi Prambanan di Indonesia ataupun jembatan di Cina yang menurut legenda menggunakan ketan sebagai perekat. Ataupun menggunakan aspal alam sebagaimana peradaban di Mahenjo Daro dan Harappa di India ataupun bangunan kuno yang dijumpai di Pulau Buton
Benar atau tidak, cerita, legenda tadi menunjukkan dikenalnya fungsi semen sejak zaman dahulu. Sebelum mencapai bentuk seperti sekarang, perekat dan penguat bangunan ini awalnya merupakan hasil percampuran batu kapur dan abu vulkanis. Pertama kali ditemukan di zaman Kerajaan Romawi, tepatnya di Pozzuoli, dekat teluk Napoli, Italia. Bubuk itu lantas dinamai pozzuolana.
Sedangkan kata semen sendiri berasal dari caementum (bahasa Latin), yang artinya kira-kira “memotong menjadi bagian-bagian kecil tak beraturan”. Meski sempat populer di zamannya, nenek moyang semen made in Napoli ini tak berumur panjang. Menyusul runtuhnya Kerajaan Romawi, sekitar abad pertengahan (tahun 1100 – 1500 M) resep ramuan pozzuolana sempat menghilang dari peredaran.
Pabrik semen di Australia.
Baru pada abad ke-18 (ada juga sumber yang menyebut sekitar tahun 1700-an M), John Smeaton – insinyur asal Inggris – menemukan kembali ramuan kuno berkhasiat luar biasa ini. Dia membuat adonan dengan memanfaatkan campuran batu kapur dan tanah liat saat membangun menara suar Eddystone di lepas pantai Cornwall, Inggris.
Ironisnya, bukan Smeaton yang akhirnya mematenkan proses pembuatan cikal bakal semen ini. Adalah Joseph Aspdin, juga insinyur berkebangsaan Inggris, pada 1824 mengurus hak paten ramuan yang kemudian dia sebut semen portland. Dinamai begitu karena warna hasil akhir olahannya mirip tanah liat Pulau Portland, Inggris. Hasil rekayasa Aspdin inilah yang sekarang banyak dipajang di toko-toko bangunan.
Sebenarnya, adonan Aspdin tak beda jauh dengan Smeaton. Dia tetap mengandalkan dua bahan utama, batu kapur (kaya akan kalsium karbonat) dan tanah lempung yang banyak mengandung silika (sejenis mineral berbentuk pasir), aluminium oksida (alumina) serta oksida besi. Bahan-bahan itu kemudian dihaluskan dan dipanaskan pada suhu tinggi sampai terbentuk campuran baru.
Selama proses pemanasan, terbentuklah campuran padat yang mengandung zat besi. Nah, agar tak mengeras seperti batu, ramuan diberi bubuk gips dan dihaluskan hingga berbentuk partikel-partikel kecil mirip bedak.
Pengaduk semen sederhana.
Lazimnya, untuk mencapai kekuatan tertentu, semen portland berkolaborasi dengan bahan lain. Jika bertemu air (minus bahan-bahan lain), misalnya, memunculkan reaksi kimia yang sanggup mengubah ramuan jadi sekeras batu. Jika ditambah pasir, terciptalah perekat tembok nan kokoh. Namun untuk membuat pondasi bangunan, campuran tadi biasanya masih ditambah dengan bongkahan batu atau kerikil, biasa disebut concrete atau beton.
Beton bisa disebut sebagai mahakarya semen yang tiada duanya di dunia. Nama asingnya, concrete – dicomot dari gabungan prefiks bahasa Latin com, yang artinya bersama-sama, dan crescere (tumbuh). Maksudnya kira-kira, kekuatan yang tumbuh karena adanya campuran zat tertentu. Dewasa ini, nyaris tak ada gedung pencakar langit berdiri tanpa bantuan beton.
Meski bahan bakunya sama, “dosis” semen sebenarnya bisa disesuaikan dengan beragam kebutuhan. Misalnya, jika kadar aluminanya diperbanyak, kolaborasi dengan bahan bangunan lainnya bisa menghasilkan bahan tahan api. Ini karena sifat alumina yang tahan terhadap suhu tinggi. Ada juga semen yang cocok buat mengecor karena campurannya bisa mengisi pori-pori bagian yang hendak diperkuat.
Kandungan kimia
* Trikalsium Silikat
* Dikalsium Silikat
* Trikalsium Aluminat
* Tetrakalsium Aluminofe
* Gipsum
Produksi Semen
Langkah Utama Proses Produksi Semen adalah:
1. Penggalian/Quarrying:Terdapat dua jenis material yang penting bagi produksi semen: yang pertama adalah yang kaya akan kapur atau material yang mengandung kapur (calcareous materials) seperti batu gamping, kapur, dll., dan yang kedua adalah yang kaya akan silika atau material mengandung tanah liat (argillaceous materials) seperti tanah liat. Batu gamping dan tanah liat dikeruk atau diledakkan dari penggalian dan kemudian diangkut ke alat penghancur.
2. Penghancuran: Penghancur bertanggung jawab terhadap pengecilan ukuran primer bagi material yang digali.
3. Pencampuran Awal: Material yang dihancurkan melewati alat analisis on-line untuk menentukan komposisi tumpukan bahan.
4. Penghalusan dan Pencampuran Bahan Baku: Sebuah belt conveyor mengangkut tumpukan yang sudah dicampur pada tahap awal ke penampung, dimana perbandingan berat umpan disesuaikan dengan jenis klinker yang diproduksi. Material kemudian digiling sampai kehalusan yang diinginkan.
5. Pembakaran dan Pendinginan Klinker: Campuran bahan baku yang sudah tercampur rata diumpankan ke pre-heater, yang merupakan alat penukar panas yang terdiri dari serangkaian siklon dimana terjadi perpindahan panas antara umpan campuran bahan baku dengan gas panas dari kiln yang berlawanan arah. Kalsinasi parsial terjadi pada pre‐heater ini dan berlanjut dalam kiln, dimana bahan baku berubah menjadi agak cair dengan sifat seperti semen. Pada kiln yang bersuhu 1350-1400°C, bahan berubah menjadi bongkahan padat berukuran kecil yang dikenal dengan sebutan klinker, kemudian dialirkan ke pendingin klinker, dimana udara pendingin akan menurunkan suhu klinker hingga mencapai 100 °C.
6. Penghalusan Akhir: Dari silo klinker, klinker dipindahkan ke penampung klinker dengan dilewatkan timbangan pengumpan, yang akan mengatur perbandingan aliran bahan terhadap bahan-bahan aditif. Pada tahap ini, ditambahkan gipsum ke klinker dan diumpankan ke mesin penggiling akhir. Campuran klinker dan gipsum untuk semen jenis 1 dan campuran klinker, gipsum dan posolan untuk semen jenis P dihancurkan dalam sistim tertutup dalam penggiling akhir untuk mendapatkan kehalusan yang dikehendaki. Semen kemudian dialirkan dengan pipa menuju silo semen.
Pabrik semen di Indonesia
* PT.Indocement Tunggal Prakarsa (Semen Tigaroda)
* PT.Semen Baturaja Persero (Semen Baturaja)
* PT.Semen Padang (Semen Padang)
* PT.Semen Gresik (Semen Gresik)
* PT.Semen Bosowa (Semen Bosowa)
* PT.Semen Andalas (Semen Andalas)
* PT.Semen Cibinong
* PT.Semen Nusantara
* PT.Semen Tonasa
Jenis semen
SNI 15-0129-2004 Semen portland putih
SNI 15-0302-2004 Semen portland pozolan / Portland Pozzolan Cement (PPC)
SNI 15-2049-2004 Semen portland / Ordinary Portland Cement (OPC)
SNI 15-3500-2004 Semen portland campur
SNI 15-3758-2004 Semen masonry
SNI 15-7064-2004 Semen portland komposit
