Acara Muswil dan Musdah UNISKI Kayuagung

Pada tanggal 23 Desember 2010 s/d 27 Desember 2010. Saya, Mahasiswa lain dan Para Staf  Pengajar Universitas Islam OKI (UNISKI) Kayuagung sangat bangga karena UNISKI Kayuagung menjadi Tuan Rumah dalam acara : Musyawarah Wilayah Muhammadiyah Sumatera Selatan ke-14, Musyawarah Wilayah ‘Aisyah Sumatera Selatan ke-12, Musyawarah Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Sumatera Selatan ke-12, Musyawarah Daerah Mushammadiyah OKI, dan Musyawarah Daerah ‘Aisyah OKI.

Sebab kenapa karena UNISKI Kayuagung untuk pertama kalinya sebagai Universitas baru berdiri sudah dipercayakan untuk menjadi Tuan Rumah acara Muswil dan Musdah se-Sumsel. Alhamdulillah semua acara berjalan tertib dan lancar.

Acara tersebut dihadiri Bupati Ogan Komering Ilir Bapak Ir. Ishak Mekki, MM dan Bapak Gubernur Sumatera Selatan Bapak H. Alex Noerdin. Dan yang paling saya tidak menduga bahwa Ketua Umum PP Muhammadiyah Bapak Din Syamsudin menyempatkan untuk hadir dalam acara tersebut.

Acara ini juga dimeriahkan dengan banyak acara diantaranya : Pawai mengelilingi kota Kayuagung, Bazar di lingkungan UNISKI, Drum band, Drama, hiburan Paduan suara diiringi orgen tunggal dan dimeriahkan dengan atraksi dari kelompok persilatan Tapak Suci se-Sumsel. Setelah itu malamnya dilanjutkan Tabligh Akbar yang disampaikan oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah Bapak Din Syamsudin.

Saya sempat mengambil beberapa foto dalam acara pembukaan Muswil dan Musda ini, berikut foto2 nya :…

Panitia UNISKI

Panitia UNISKI

Stan F. Teknik UNISKI

Stan F. Teknik UNISKI

Mahasiswa Teknik Sipil '09 UNISKI

Mahasiswa Teknik Sipil '09 UNISKI

Ada beberapa pengunjung melihat alat2 Teknik Sipil UNISKI

Ada beberapa pengunjung melihat alat2 Teknik Sipil UNISKI

Termasuk saya melihat alat2 Teknik Sipil UNISKI

Termasuk saya melihat alat2 Teknik Sipil UNISKI

Banyak yang melihat2 di stan teknik

Banyak yang melihat2 di stan teknik

Stan F. Hukum UNISKI

Stan F. Hukum UNISKI

Stan F. Perikanan UNISKIStan F. Perikanan UNISKI
Mahasiswi Perikanan '07 UNISKI datang menghadiri acara

Mahasiswi Perikanan '07 UNISKI datang menghadiri acara

Stan F.KIP UNISKI

Stan F.Kejurusan Ilmu Pengatahuan UNISKI

Stan F.Kejurusan Ilmu Pengatahuan UNISKI

Stan F.Kejurusan Ilmu Pengatahuan UNISKI

Mahasiswi FKIP B.Inggris '08 UNISKI

Mahasiswi FKIP B.Inggris '08 UNISKI

Ada lagi Mahasiswi FKIP B.inggris '08 UNISKI

Ada lagi Mahasiswi FKIP B.inggris '08 UNISKI

Mahasiswi FKIP Bhs. Indonesia

Mahasiswi FKIP Bhs. Indonesia

Mahasiswi FKIP UNISKI

Mahasiswi FKIP UNISKI

Stan Tapak Suci UNISKI

Stan Tapak Suci UNISKI

Stan Kedokteran Muhammadiyah Palembang

Stan Kedokteran Muhammadiyah Palembang

banyak yang datang di stan kedokteran muhammadiyah ini

banyak yang datang di stan kedokteran muhammadiyah ini

Pawai Keliling Kota Kayuagung

Pawai Keliling Kota Kayuagung

Paduan Suara

Paduan Suara

Grum Band
Grum Band
Grum Band

Grum Band

Kelompok Tapak Suci menyambut Kedatangan Bupati OKI, Gubernur Sumsel dan Ketua Umum PP Muhammadiyah

Kelompok Tapak Suci menyambut Kedatangan Bupati OKI, Gubernur Sumsel dan Ketua Umum PP Muhammadiyah

Kelompok Tapak Suci menyambut Kedatangan Bupati OKI, Gubernur Sumsel dan Ketua Umum PP Muhammadiyah

Kelompok Tapak Suci menyambut Kedatangan Bupati OKI, Gubernur Sumsel dan Ketua Umum PP Muhammadiyah

Bupati OKI datang menghadiri acara

Bupati OKI datang menghadiri acara

Bupati OKI sedang menyaksikan acara

Bupati OKI sedang menyaksikan acara

Pidato Bupati OKI

Pidato Bupati OKI

Menunggu kedatangan Gubernur dan Ketua Umum PP Muhammadiyah

Bupati OKI mengunggu kehadiran Gubernur Sumsel dan Ketua Umum PP Muhammadiyah

Kedatangan Gubernur SUMSEL dan Ketua Umum PP Muhammadiyah

Kedatangan Gubernur SUMSEL dan Ketua Umum PP Muhammadiyah

Bupati OKI, Ketua PP Muhammadiyah, dan Gubernur Sumsel menuju ke depan panggung

Bupati OKI, Ketua PP Muhammadiyah, dan Gubernur Sumsel menuju ke depan panggung

Bupati OKI, Gubernur Sumsel dan Ketua Umum PP Muhammadiyah sedang menyaksikan acara

Bupati OKI, Gubernur Sumsel dan Ketua Umum PP Muhammadiyah sedang menyaksikan acara

Para tamu Undangan yang datang

Para tamu Undangan yang datang

Para undangan yang hadir

Para undangan yang hadir

Banyak tamu yang datang

Banyak tamu yang datang

Atraksi di depan Bupati OKI, Gubernur Sumsel dan Ketua Umum PP muhammadiyah

Atraksi di depan Bupati OKI, Gubernur Sumsel dan Ketua Umum PP muhammadiyah

Gubernur Sumsel membuka acara Musda dan Muswil Muhammadiyah se-Sumsel

Gubernur Sumsel membuka acara Musda dan Muswil Muhammadiyah se-Sumsel

 

Pokoknya acara itu sangat meriah, semoga dilain tahun Universitas Islam OKI (UNISKI) Kayuagung dapat menjadi tuan rumah lagi. Amien…

Kode Pos Kayuagung

Street Name, Postal Code / Zip Code / Kode Pos

Street Name Postal Code Kabupaten
1 - Wil.Kec. Kayuagung lainnya Kec. Kayuagung 30651 Kayuagung
2 Ds. Celikah Kec. Kayuagung 30611 Kayuagung
3 Jln. Abung Bunga Mayang No. 001 dst 30616 Kayuagung
4 Jln. Abung Bunga Mayang Lk I No. 1 – 14 30615 Kayuagung
5 Jln. Abung Bunga Mayang Lk IV No. 52 30612 Kayuagung
6 Jln. Abung Bunga Mayang Lk III No. 54 30613 Kayuagung
7 Jln. Bahanan Ayub, Letnan 30617 Kayuagung
8 Jln. Baru 30614 Kayuagung
9 Jln. Beringin I – III 30611 Kayuagung
10 Jln. Beringin Jaya 30611 Kayuagung
11 Jln. Cokro Aminoto 30614 Kayuagung
12 Jln. Cubah 30616 Kayuagung
13 Jln. Darna Jambi 30611 Kayuagung
14 Jln. Gajah Mada 30617 Kayuagung
15 Jln. Gubah 30612 Kayuagung
16 Jln. Guru-guru 30611 Kayuagung
17 Jln. Hamid, Demang 30612 Kayuagung
18 Jln. Hatta 30615 Kayuagung
19 Jln. Jufri,Sersan 30615 Kayuagung
20 Jln. Kadet Sayuti 30617 Kayuagung
21 Jln. Kandis 30616 Kayuagung
22 Jln. Komplek Pengadilan Negeri 30616 Kayuagung
23 Jln. Komplek Purna Jaya 30611 Kayuagung
24 Jln. Kotapandan, Lk. I No. 001 dst 30617 Kayuagung
25 Jln. Kotapandan, Lk. III No. 62 30618 Kayuagung
26 Jln. M. Dhani 30614 Kayuagung
27 Jln. M. Noeh Macan, Kol 30612 Kayuagung
28 Jln. M. Nuh Halim 30617 Kayuagung
29 Jln. Mangga Raya 30611 Kayuagung
30 Jln. Marzuki 30614 Kayuagung
31 Jln. Marzuki Zahri, Letnan 30614 Kayuagung
32 Jln. Marzuki, Mayor 30611 Kayuagung
33 Jln. Masjid 30614 Kayuagung
34 Jln. Merdeka 30614 Kayuagung
35 Jln. Moeh Macan, Kol 30613 Kayuagung
36 Jln. Muchtar Saleh, Letnan 30614 Kayuagung
37 Jln. Muchtar, Sersan Kel. Cintaraja 30614 Kayuagung
38 Jln. Muchtar, Sersan Kel. Kayuagung Asli 30618 Kayuagung
39 Jln. Mukhtar 30614 Kayuagung
40 Jln. Murod Kuring LK I, Letnan 30614 Kayuagung
41 Jln. Murod Kuring, Letnan 30615 Kayuagung
42 Jln. Nasional 30616 Kayuagung
43 Jln. Nawawi, Kol.Pol No. 13 dst 30615 Kayuagung
44 Jln. Nawawi, Kol.Pol No. 1 – 12 30614 Kayuagung
45 Jln. Noeh Macan 30611 Kayuagung
46 Jln. Nuch Macan 30612 Kayuagung
47 Jln. Pahlawan 30615 Kayuagung
48 Jln. Pahlawan LK VI 30616 Kayuagung
49 Jln. Panti Asuhan 30615 Kayuagung
50 Jln. Perikanan 30614 Kayuagung
51 Jln. Pertanian 30614 Kayuagung
52 Jln. Pos 30614 Kayuagung
53 Jln. Puskesmas 30617 Kayuagung
54 Jln. Rajawali 30617 Kayuagung
55 Jln. Roda 30613 Kayuagung
56 Jln. Rumah Sakit 30614 Kayuagung
57 Jln. Rumah Sakit LK 30615 Kayuagung
58 Jln. Sayuti Kadet 30614 Kayuagung
59 Jln. Setinggar 30612 Kayuagung
60 Jln. Temenggung 30613 Kayuagung
61 Jln. Veteran I 30614 Kayuagung
62 Jln. Veteran II 30615 Kayuagung
63 Kec. Indralaya Kab. Ogan Komering Ilir 30662 Kayuagung
64 Kec. Mesuji Kab. Ogan Komering Ilir 30681 Kayuagung
65 Kec. Muarakuang Kab. Ogan Komering Ilir 30665 Kayuagung
66 Kec. Pampangan Kab. Ogan Komering Ilir 30654 Kayuagung
67 Kec. Pedamaran Kab. Ogan Komering Ilir 30672 Kayuagung
68 Kec. Pemulutan Kab. Ogan Komering Ilir 30653 Kayuagung
69 Kec. Sirah Pulau Padang Kab. Ogan Komering Ilir 30652 Kayuagung
70 Kec. Tanjung Batu Kab. Ogan Komering Ilir 30664 Kayuagung
71 Kec. Tanjung Raja Kab. Ogan Komering Ilir 30661 Kayuagung
72 Kec. Tanjunglubuk Kab. Ogan Komering Ilir 30671 Kayuagung
73 Kec. Tulung Selapan Kab. Ogan Komering Ilir 30655 Kayuagung
74 Kel. Cintaraja Kec. Kayuagung 30614 Kayuagung
75 Kel. Jua Jua Kec. Kayuagung 30616 Kayuagung
76 Kel. Kayuagung Asli Kec. Kayuagung 30618 Kayuagung
77 Kel. Kedaton Kec. Kayuagung 30617 Kayuagung
78 Kel. Kotaraja Kec. Kayuagung 30617 Kayuagung
79 Kel. Mangunjaya Kec. Kayuagung 30613 Kayuagung
80 Kel. Paku Kec. Kayuagung 30612 Kayuagung
81 Kel. Perigi Kec. Kayuagung 30618 Kayuagung
82 Kel. Sidakersa Kec. Kayuagung 30615 Kayuagung
83 Kel. Sukadana Kec. Kayuagung 30611 Kayuagung
84 Km. Komplek Kodim 30612 Kayuagung
85 Kr. Komplek DPR 30611 Kayuagung
86 Kr. Komplek Kabag 30612 Kayuagung
87 Kr. Komplek Pengadilan 30615 Kayuagung
88 Kr. Komplek Perumnas 30611 Kayuagung
89 Kr. Perumnas BTN 30611 Kayuagung
90 Kr. Perumnas Muarabaru 30651 Kayuagung
91 Ks. SMU Unggulan 30617 Kayuagung
92 Lr. A Adam, Depati, H 30617 Kayuagung
93 Lr. Abdullah, KH 30613 Kayuagung
94 Lr. Abu Tertusyi, KH 30613 Kayuagung
95 Lr. Adam, H 30616 Kayuagung
96 Lr. Agusman 30612 Kayuagung
97 Lr. Al Hupas 30617 Kayuagung
98 Lr. Aman 30615 Kayuagung
99 Lr. Amin Kaut, Sersan 30613 Kayuagung
100 Lr. Antara 30612 Kayuagung
101 Lr. Bagus Keraton 30617 Kayuagung
102 Lr. Bastamin, H 30615 Kayuagung
103 Lr. Buduan, H 30617 Kayuagung
104 Lr. Bujang, Sersan 30616 Kayuagung
105 Lr. Buncit 30612 Kayuagung
106 Lr. Burhan, Menteri 30611 Kayuagung
107 Lr. Capdalom 30617 Kayuagung
108 Lr. Cicit Lobay 30616 Kayuagung
109 Lr. Cokro 30614 Kayuagung
110 Lr. Cucut Batan 30616 Kayuagung
111 Lr. Dahlan, Kopral Kel. Paku 30612 Kayuagung
112 Lr. Dahlan, Kopral Kel. Kedaton 30617 Kayuagung
113 Lr. Daud, H 30612 Kayuagung
114 Lr. Depati Lux III 30611 Kayuagung
115 Lr. Depati Qomah 30617 Kayuagung
116 Lr. Djafar, H 30617 Kayuagung
117 Lr. Flamboyan 30615 Kayuagung
118 Lr. Gelatik 30617 Kayuagung
119 Lr. Gemuk, Depati 30617 Kayuagung
120 Lr. Gubah 30615 Kayuagung
121 Lr. Hamid, Demang 30612 Kayuagung
122 Lr. Hasan, H 30612 Kayuagung
123 Lr. Hasyim, H 30615 Kayuagung
124 Lr. Hatta 30615 Kayuagung
125 Lr. Ishak, KH 30618 Kayuagung
126 Lr. Jagat Raya 30617 Kayuagung
127 Lr. Jaya 30614 Kayuagung
128 Lr. Kabul 30614 Kayuagung
129 Lr. Karangan 30615 Kayuagung
130 Lr. Karim, Sersan 30617 Kayuagung
131 Lr. Keliru 30617 Kayuagung
132 Lr. Kenanga 30615 Kayuagung
133 Lr. Keranggan 30617 Kayuagung
134 Lr. Kerio A Bakar 30611 Kayuagung
135 Lr. Kerio H Nawawi 30611 Kayuagung
136 Lr. Kerio Hamdan 30617 Kayuagung
137 Lr. Kerio M Nur 30617 Kayuagung
138 Lr. Kerio M Yasin 30613 Kayuagung
139 Lr. Kerio Marzuki 30613 Kayuagung
140 Lr. Kerio Rozak 30613 Kayuagung
141 Lr. Kerio Syamsudin 30618 Kayuagung
142 Lr. Khotib H Abu Nawar 30618 Kayuagung
143 Lr. Khotib Husin 30617 Kayuagung
144 Lr. Khotib KH Umar Thoyib 30618 Kayuagung
145 Lr. Khotib Madil 30618 Kayuagung
146 Lr. Khotif Amsu 30613 Kayuagung
147 Lr. Kimsin 30616 Kayuagung
148 Lr. Langkusa 30618 Kayuagung
149 Lr. Lurah 30613 Kayuagung
150 Lr. Lurah Mangunjaya 30613 Kayuagung
151 Lr. M. Isa 30613 Kayuagung
152 Lr. Madehin 30617 Kayuagung
153 Lr. Maison 30615 Kayuagung
154 Lr. Maliki, H 30613 Kayuagung
155 Lr. Manan Kopo 30617 Kayuagung
156 Lr. Masjid Kel. Kayuagung Asli 30618 Kayuagung
157 Lr. Masjid 30612 Kayuagung
158 Lr. Masjid Kel. Mangunjaya 30613 Kayuagung
159 Lr. Maulana, Camat 30616 Kayuagung
160 Lr. Melati Kel. Perigi 30618 Kayuagung
161 Lr. Melati Kel. Sidakerta 30615 Kayuagung
162 Lr. Mister 30618 Kayuagung
163 Lr. Nuri Kel. Kedaton 30617 Kayuagung
164 Lr. Nuri Kel. Sidakersa 30615 Kayuagung
165 Lr. Pekapuran 30618 Kayuagung
166 Lr. Pembangunan 30617 Kayuagung
167 Lr. Pemurab 30615 Kayuagung
168 Lr. Penggawa Abdullah 30611 Kayuagung
169 Lr. Penggawa Aman 30617 Kayuagung
170 Lr. Penggawa H Ahmad Cupu 30618 Kayuagung
171 Lr. Penggawa Hasan 30617 Kayuagung
172 Lr. Penggawa Ismail 30611 Kayuagung
173 Lr. Penggawa Kadir 30613 Kayuagung
174 Lr. Penggawa Kunang 30617 Kayuagung
175 Lr. Penggawa M Nur 30617 Kayuagung
176 Lr. Penggawa Maduk 30611 Kayuagung
177 Lr. Penggawa Manan 30611 Kayuagung
178 Lr. Penggawa Marzuki 30611 Kayuagung
179 Lr. Penggawa Toha 30617 Kayuagung
180 Lr. Penggowo Omon 30617 Kayuagung
181 Lr. Penyimbang 30611 Kayuagung
182 Lr. Perintis 30612 Kayuagung
183 Lr. Perwira I – II 30612 Kayuagung
184 Lr. Petasan 30617 Kayuagung
185 Lr. Pipit 30617 Kayuagung
186 Lr. Purba 30618 Kayuagung
187 Lr. Raden Tihang 30617 Kayuagung
188 Lr. Rahman Bakri, H 30612 Kayuagung
189 Lr. Rahman, Sersan 30613 Kayuagung
190 Lr. Ratu Agung 30611 Kayuagung
191 Lr. Ratu Jimat 30616 Kayuagung
192 Lr. Saat 30615 Kayuagung
193 Lr. Sayuti 30618 Kayuagung
194 Lr. Sayuti, Kopral 30618 Kayuagung
195 Lr. Sd 16 30615 Kayuagung
196 Lr. Sejahtera 30617 Kayuagung
197 Lr. Sekolah 30617 Kayuagung
198 Lr. Sekolah No. 8 30616 Kayuagung
199 Lr. Sempurna 30618 Kayuagung
200 Lr. Sepakat Kel. Kayuagung Asli 30618 Kayuagung
201 Lr. Sepakat Kel. Mangunjaya 30613 Kayuagung
202 Lr. Seroja 30615 Kayuagung
203 Lr. Setia 30617 Kayuagung
204 Lr. Singabut 30618 Kayuagung
205 Lr. Singgahpai 30615 Kayuagung
206 Lr. Tembusan 30618 Kayuagung
207 Lr. Tuan Kocik 30616 Kayuagung
208 Lr. Usman, Sersan 30618 Kayuagung
209 Lr. Veteran Saleh 30616 Kayuagung
210 Lr. Wiralaga 30617 Kayuagung
211 Lr. Yusuf Purba, H 30618 Kayuagung

 

 

Kerajaan Sriwijaya

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Sriwijaya
Flag

Flag

600-an – 1300-an Flag
Location of Sriwijaya

Jangkauan terluas Kemaharajaan Sriwijaya sekitar abad ke-8 Masehi.

Ibu kota Palembang, Jambi
Bahasa Melayu Kuno, Sansekerta
Agama Buddha, Hindu
Pemerintahan Monarki
Maharaja
- 683 Jayanasa
- 775 Dharmasetu
- 792 Samaratunga
- 835 Balaputradewa
- 988 Sri Culamanivarmadeva
Sejarah
- Didirikan 600-an
- Invasi Majapahit 1300-an
Mata uang Koin emas dan perak
Artikel ini bagian dari seri
Sejarah Indonesia
History of Indonesia.png
Sejarah Nusantara
Pra-Kolonial (sebelum 1602)
Pra-sejarah
Kerajaan Hindu-Buddha
Kerajaan Islam
Zaman kolonial (1602-1945)
Era Portugis
Era VOC
Era Belanda
Era Jepang (1942-1945)
Sejarah Republik Indonesia
Proklamasi (17 Agustus 1945)
Masa Transisi
Era Orde Lama
Demokrasi Terpimpin
Operasi Trikora (1960-1962)
Konfrontasi Indo-Malaya (1962-1965)
Gerakan 30 September 1965
Era Orde Baru
Gerakan Mahasiswa 1998
Era Reformasi
[Sunting]

Sriwijaya adalah kerajaan Melayu kuno di pulau Sumatra yang banyak berpengaruh di Nusantara. Bukti awal mengenai keberadaan kerajaan ini berasal dari abad ke-7; seorang pendeta Tiongkok, I-Tsing, menulis bahwa ia mengunjungi Sriwijaya tahun 671 selama 6 bulan. Prasasti pertama mengenai Sriwijaya juga berada pada abad ke-7, yaitu Prasasti Kedukan Bukit di Palembang, Sumatra, pada tahun 683. Kerajaan ini mulai jatuh sekitar tahun 1200 – 1300 karena berbagai faktor, termasuk ekspansi kerajaan Majapahit. Dalam bahasa Sansekerta, sri berarti “bercahaya” dan wijaya berarti “kemenangan”.

Setelah Sriwijaya jatuh, kerajaan ini terlupakan dan sejarawan tidak mengetahui keberadaan kerajaan ini. Eksistensi Sriwijaya diketahui secara resmi tahun 1918 oleh sejarawan Perancis George Coedès dari École française d’Extrême-Orient.Sekitar tahun 1992 hingga 1993, Pierre-Yves Manguin membuktikan bahwa pusat Sriwijaya berada di Sungai Musi antara Bukit Seguntang dan Sabokingking (terletak di provinsi Sumatra Selatan, Indonesia).

//

Historiografi

Tidak terdapat catatan lebih lanjut mengenai Sriwijaya dalam sejarah Indonesia; masa lalunya yang terlupakan dibentuk kembali oleh sarjana asing. Tidak ada orang Indonesia modern yang mendengar mengenai Sriwijaya sampai tahun 1920-an, ketika sarjana Perancis George Coedès mempublikasikan penemuannya dalam koran berbahasa Belanda dan Indonesia. Coedès menyatakan bahwa referensi Tiongkok terhadap “Sanfoqi”, sebelumnya dibaca “Sribhoja”, dan prasasti dalam Melayu Kuno merujuk pada kekaisaran yang sama.

Sriwijaya menjadi simbol kebesaran Sumatra awal, dan kerajaan besar yang dapat mengimbangi Majapahit di timur. Pada abad ke-20, kedua kerajaan tersebut menjadi referensi oleh kaum nasionalis untuk menunjukkan bahwa Indonesia merupakan satu kesatuan negara sebelelum kolonialisme Belanda.

Sriwijaya disebut dengan berbagai macam nama. Orang Tionghoa menyebutnya Sanfotsi atau San Fo Qi. Dalam bahasa Sansekerta dan Pali, kerajaan Sriwijaya disebut Yavadesh dan Javadeh. Bangsa Arab menyebutnya Zabag dan Khmer menyebutnya Melayu. Banyaknya nama merupakan alasan lain mengapa Sriwijaya sangat sulit ditemukan.

Berikut ini adalah beberapa sumber sejarah yang diketahui berkaitan dengan Sriwijaya:

Berbahasa Sanskerta atau Tamil

- Prasasti Ligor di Thailand
- Prasasti Kanton di Kanton
- Prasasti Siwagraha
- Prasasti Nalanda di India
- Piagam Leiden di India
- Prasasti Tanjor
- Piagam Grahi
- Prasasti Padang Roco
- Prasasti Srilangka

Sumber berita Tiongkok

- Kronik dari Dinasti Tang
- Kronik Dinasti Sung
- Kronik Dinasti Ming
- Kronik Perjalanan I Tsing
- Kronik Chu-fan-chi oleh Chau Ju-kua
- Kronik Tao Chih Lio oleh Wang Ta Yan
- Kronik Ling-wai Tai-ta oleh Chou Ku Fei
- Kronik Ying-yai Sheng-lan oleh Ma Huan

Prasasti berbahasa Melayu Kuno

- Prasasti Kedukan Bukit tanggal 16 Juni 682 Masehi di Palembang
- Prasasti Talang Tuo tanggal 23 Maret 684 Masehi di Palembang
- Prasasti Telaga Batu abad ke-7 Masehi di Palembang
- Prasasti Palas Pasemah abad ke-7 Masehi di Lampung Selatan
- Prasasti Karang Brahi abad ke-7 Masehi di Jambi
- Prasasti Kota Kapur tanggal 28 Februari 686 Masehi di P. Bangka
- Prasasti Sojomerto abad ke-7 Masehi di Kabupaten Batang, Jawa Tengah

Pembentukan dan pertumbuhan

Peta pengaruh Sriwijaya di abad ke-10

Tidak banyak bukti fisik mengenai Sriwijaya yang dapat ditemukan.[11] Menurut Prasasti Kedukan Bukit, kekaisaran Sriwijaya didirikan oleh Dapunta Hyang Çri Yacanaca (Dapunta Hyang Sri Jayanasa). Ia memimpin 20.000 tentara (terutama tentara darat dan beberapa ratus kapal) dari Minanga Tamwan ke Palembang, Jambi, dan Bengkulu. Menurut sebagian sejarawan, Minanga Tamwan merujuk pada daerah di sekitar hulu sungai Kampar di Kabupaten Lima Puluh Kota sekarang. Tambo Minangkabau mencatat bahwa keluarga Dapunta Hyang turun dari gunung Marapi ke hulu sungai Kampar, yang kemudian keturunannya meluaskan rantau ke selatan Sumatra.

Kerajaan ini adalah pusat perdagangan dan merupakan negara maritim. Negara ini tidak memperluas kekuasaannya diluar wilayah kepulauan Asia Tenggara, dengan pengecualian berkontribusi untuk populasi Madagaskar sejauh 3.300 mil di barat. Sekitar tahun 500, akar Sriwijaya mulai berkembang di wilayah sekitar Palembang, Sumatra. Kerajaan ini terdiri atas tiga zona utama – daerah ibukota muara yang berpusatkan Palembang, lembah Sungai Musi yang berfungsi sebagai daerah pendukung dan daerah-daerah muara saingan yang mampu menjadi pusat kekuasan saingan. Wilayah hulu sungai Musi kaya akan berbagai komoditas yang berharga untuk pedagang Tiongkok. Ibukota diperintah secara langsung oleh penguasa, sementara daerah pendukung tetap diperintah oleh datu lokal.

Pada tahun 680 di bawah kepemimpinan Jayanasa, Kerajaan Melayu takluk di bawah imperium Sriwijaya. Penguasaan atas Melayu yang kaya emas telah meningkatkan prestise kerajaan. Di abad ke-7, orang Tionghoa mencatat bahwa terdapat dua kerajaan di Sumatera dan tiga kerajaan di Jawa menjadi bagian imperium Sriwijaya. Di akhir abad ke-8 beberapa kerajaan di Jawa, antara lain Tarumanegara dan Holing berada di bawah pengaruh Sriwijaya. Menurut catatan, pada masa ini pula wangsa Budha Sailendra di Jawa Tengah berada di bawah dominasi Sriwijaya. Berdasarkan prasasti Kota Kapur, imperium menguasai bagian selatan Sumatera hingga Lampung, mengontrol perdagangan di Selat Malaka, Laut China Selatan, Laut Jawa, dan Selat Karimata. Di abad ini pula, Langkasuka di semenanjung Melayu menjadi bagian kerajaan. Di masa berikutnya, Pan Pan dan Trambralinga, yang terletak di sebelah utara Langkasuka, juga berada di bawah pengaruh Sriwijaya.

Ekspansi kerajaan ke Jawa dan semenanjung Melayu, menjadikan Sriwijaya mengontrol dua pusat perdagangan utama di Asia Tenggara. Berdasarkan observasi, ditemukan reruntuhan candi-candi Sriwijaya di Thailand dan Kamboja. Di abad ke-7, pelabuhan Cham di sebelah timur Indochina mulai mengalihkan banyak pedagang dari Sriwijaya. Untuk mencegah hal tersebut, maharaja Dharmasetu melancarkan beberapa serangan ke kota-kota pantai di Indochina. Kota Indrapura di tepi sungai Mekong, di awal abad ke-8 berada di bawah kendali Palembang.[15] Sriwijaya meneruskan dominasinya atas Kamboja, sampai raja Khmer Jayawarman II, pendiri imperium Khmer, memutuskan hubungan dengan kerajaan di abad yang sama.[17]

Setelah Dharmasetu, Samaratungga menjadi penerus kerajaan. Ia berkuasa pada periode 792 sampai 835. Tidak seperti Dharmasetu yang ekspansionis, Samaratungga tidak melakukan ekspansi militer, tetapi lebih memilih untuk memperkuat penguasaan Sriwijaya di Jawa. Selama masa kepemimpinannya, ia membangun candi Borobudur di Jawa yang selesai pada tahun 825.

Di abad ke-12, wilayah imperium Sriwijaya meliputi Sumatera, Sri Lanka, semenanjung Melayu, Jawa Barat, Sulawesi, Maluku, Kalimantan, dan Philipina.[19] Dengan penguasaan tersebut, kerajaan Sriwijaya menjadi kerajaan maritim yang hebat hingga abad ke-13.

Budha Vajrayana

Sebagai pusat pengajaran Budha Vajrayana, Sriwijaya menarik banyak peziarah dan sarjana dari negara-negara di Asia. Antara lain pendeta dari Tiongkok I Ching, yang melakukan kunjungan ke Sumatra dalam perjalanan studinya di Universitas Nalanda, India pada tahun 671 dan 695, serta di abad ke-11, Atisha, seorang sarjana Budha asal Benggala yang berperan dalam mengembangkan Budha Vajrayana di Tibet. I Ching melaporkan bahwa Sriwijaya menjadi rumah bagi ribuan sarjana Budha. Pengunjung yang datang ke pulau ini menyebutkan bahwa koin emas telah digunakan di pesisir kerajaan.

Relasi dengan kekuatan regional

Meskipun catatan sejarah dan bukti arkeologi jarang ditemukan, tetapi beberapa menyatakan bahwa pada abad ke-7, Sriwijaya telah melakukan kolonisasi atas seluruh Sumatra, Jawa Barat, dan beberapa daerah di semenanjung Melayu. Dominasi atas Selat Malaka dan Selat Sunda, menjadikan Sriwijaya sebagai pengendali rute perdagangan rempah dan perdagangan lokal yang mengenakan biaya atas setiap kapal yang lewat. Palembang mengakumulasi kekayaannya sebagai pelabuhan dan gudang perdagangan yang melayani pasar Tiongkok, Melayu, dan India.

Kerajaan Jambi merupakan kekuatan pertama yang menjadi pesaing Sriwijaya yang akhirnya dapat ditaklukkan pada abad ke-7 dan ke-9. Di Jambi, pertambangan emas merupakan sumber ekonomi cukup penting dan kata Suwarnadwipa (pulau emas) mungkin merujuk pada hal ini. Kerajaan Sriwijaya juga membantu menyebarkan kebudayaan Melayu ke seluruh Sumatra, Semenanjung Melayu, dan Kalimantan bagian Barat. Pada abad ke-11 pengaruh Sriwijaya mulai menyusut. Hal ini ditandai dengan seringnya konflik dengan kerajaan-kerajaan Jawa, pertama dengan Singasari dan kemudian dengan Majapahit. Di akhir masa, pusat kerajaan berpindah dari Palembang ke Jambi.

Pada masa awal, Kerajaan Khmer juga menjadi daerah jajahan Sriwijaya. Banyak sejarawan mengklaim bahwa Chaiya, di propinsi Surat Thani, Thailand sebagai ibu kota terakhir kerajaan, walaupun klaim tersebut tak mendasar. Pengaruh Sriwijaya nampak pada bagunan pagoda Borom That yang bergaya Sriwijaya. Setelah kejatuhan Sriwijaya, Chaiya terbagi menjadi tiga kota yakni (Mueang) Chaiya, Thatong (Kanchanadit) dan Khirirat Nikhom.

Sriwijaya juga berhubungan dekat dengan kerajaan Pala di Benggala, dan sebuah prasasti tertahun 860 mencatat bahwa raja Balaputra mendedikasikan seorang biara kepada Universitas Nalada, Pala. Relasi dengan dinasti Chola di India selatan cukup baik dan menjadi buruk setelah terjadi peperangan di abad ke-11.

Masa keemasan

Setelah terjadi kekacauan perdagangan di Kanton antara tahun 820 – 850, pemerintahan Jambi menyatakan diri sebagai kerajaan merdeka dengan mengirimkan utusan ke China pada tahun 853 dan 871. Kemerdekaan Jambi bertepatan dengan dirampasnya tahta Sriwijaya di Jawa dengan diusirnya raja Balaputradewa. Di tahun 902, raja baru mengirimkan upeti ke China. Dua tahun kemudian raja terakhir dinasti Tang menganugerahkan gelar kepada utusan Sriwijaya. Dari literatur Tiongkok utusan itu mempunyai nama Arab hal ini memberikan informasi bahwa pada masa-masa itu Sriwijaya sudah berhubungan dengan Arab yang memungkinkan Sriwijaya sudah masuk pengaruh Islam di dalam kerajaan.

Pada paruh pertama abad ke-10, diantara kejatuhan dinasti Tang dan naiknya dinasti Song, perdagangan dengan luar negeri cukup marak, terutama Fujian, kerajaan Min dan negeri kaya Guangdong, kerajaan Nan Han. Tak diragukan lagi Sriwijaya mendapatkan keuntungan dari perdagangan ini. Pada tahun 903, penulis Muslim Ibn Batutah sangat terkesan dengan kemakmuran Sriwijaya. Daerah urban kerajaan meliputi Palembang (khususnya Bukit Seguntang), Muara Jambi dan Kedah.

Penurunan

Tahun 1025, Rajendra Chola, raja Chola dari Koromandel, India selatan menaklukkan Kedah dari Sriwijaya dan menguasainya. Kerajaan Chola meneruskan penyerangan dan penaklukannya selama 20 tahun berikutnya keseluruh imperium Sriwijaya. Meskipun invasi Chola tidak berhasil sepenuhnya, tetapi invasi tersebut telah melemahkan hegemoni Sriwijaya yang berakibat terlepasnya beberapa wilayah dengan membentuk kerajaan sendiri, seperti Kediri, sebuah kerajaan yang berbasiskan pada pertanian.

Antara tahun 1079 – 1088, orang Tionghoa mencatat bahwa Sriwijaya mengirimkan duta besar dari Jambi dan Palembang. Tahun 1082 dan 1088, Jambi mengirimkan lebih dari dua duta besar ke China. Pada periode inilah pusat Sriwijaya telah bergeser secara bertahap dari Palembang ke Jambi.[21] Ekspedisi Chola telah melemahkan Palembang, dan Jambi telah menggantikannya sebagai pusat kerajaan.

Berdasarkan sumber Tiongkok pada buku Chu-fan-chi yang ditulis pada tahun 1178, Chou-Ju-Kua menerangkan bahwa di kepulauan Asia Tenggara terdapat dua kerajaan yang sangat kuat dan kaya, yakni Sriwijaya dan Jawa (Kediri). Di Jawa dia menemukan bahwa rakyatnya memeluk agama Budha dan Hindu, sedangkan rakyat Sriwijaya memeluk Budha. Berdasarkan sumber ini pula dikatakan bahwa beberapa wilayah kerajaan Sriwijaya ingin melepaskan diri, antara lain Kien-pi (Kampe, di utara Sumatra) dan beberapa koloni di semenanjung Malaysia. Pada masa itu wilayah Sriwijaya meliputi; Pong-fong (Pahang), Tong-ya-nong (Trengganu), Ling-ya-ssi-kia (Langkasuka), Kilan-tan (Kelantan), Fo-lo-an (?), Ji-lo-t’ing (Jelutong), Ts’ien-mai (?), Pa-t’a (Batak), Tan-ma-ling (Tambralingga, Ligor), Kia-lo-hi (Grahi, bagian utara semenanjung Malaysia), Pa-lin-fong (Palembang), Sin-t’o (Sunda), Lan-wu-li (Lamuri di Aceh), and Si-lan (Srilanka?).

Pada tahun 1288, Singasari, penerus kerajaan Kediri di Jawa, menaklukan Palembang dan Jambi selama masa ekspedisi Pamalayu. Di tahun 1293, Majapahit pengganti Singasari, memerintah Sumatra. Raja ke-4 Hayam Wuruk memberikan tanggung jawab tersebut kepada Pangeran Adityawarman, seorang peranakan Minang dan Jawa. Pada tahun 1377 terjadi pemberontakan terhadap Majapahit, tetapi pemberontakan tersebut dapat dipadamkan walaupun di selatan Sumatra sering terjadi kekacauan dan pengrusakan.

Dimasa berikutnya, terjadi pengendapan pada sungai Musi yang berakibat tertutupnya akses pelayaran ke Palembang. Hal ini tentunya sangat merugikan perdagangan kerajaan. Penurunan Sriwijaya terus berlanjut hingga masuknya Islam ke Aceh yang di sebarkan oleh pedagang-pedagang Arab dan India. Di akhir abad ke-13, kerajaan Pasai di bagian utara Sumatra berpindah agama Islam.

Pada tahun 1402, Parameswara, pangeran terakhir Sriwijaya mendirikan kesultanan Malaka di semenanjung Malaysia.

Perdagangan

Di dunia perdagangan, Sriwijaya menjadi pengendali jalur perdagangan antara India dan Tiongkok, yakni dengan penguasaan atas selat Malaka dan selat Sunda. Orang Arab mencatat bahwa Sriwijaya memiliki aneka komoditi seperti kamper, kayu gaharu, cengkeh, pala, kepulaga, gading, emas, dan timah yang membuat raja Sriwijaya sekaya raja-raja di India.

Pengaruh budaya

Kerajaan Sriwijaya banyak dipengaruhi budaya India, pertama oleh budaya agama Hindu dan kemudian diikuti pula oleh agama Buddha. Agama Buddha diperkenalkan di Srivijaya pada tahun 425 Masehi. Sriwijaya merupakan pusat terpenting agama Buddha Mahayana. Raja-raja Sriwijaya menguasai kepulauan Melayu melewati perdagangan dan penaklukkan dari kurun abad ke-7 hingga abad ke-9.

Pada masa yang sama, agama Islam memasuki Sumatra melalui Aceh yang telah tersebar melalui hubungan dengan pedagang Arab dan India. Pada tahun 1414 pangeran terakhir Sriwijaya, Parameswara, memeluk agama Islam dan berhijrah ke Semenanjung Malaya dan mendirikan Kesultanan Melaka.

Agama Buddha aliran Buddha Hinayana dan Buddha Mahayana disebarkan di pelosok kepulauan nusantara dan Palembang menjadi pusat pembelajaran agama Buddha. Pada tahun 1017, 1025, dan 1068, Sriwijaya telah diserbu raja Chola dari kerajaan Colamandala(India) yang mengakibatkan hancurnya jalur perdagangan. Pada serangan kedua tahun 1025, raja Sri Sanggramawidjaja Tungadewa ditawan. Pada masa itu juga, Sriwijaya telah kehilangan monopoli atas lalu-lintas perdagangan Tiongkok-India. Akibatnya kemegahan Sriwijaya menurun. Pada tahun 1088, Kerajaan Melayu Jambi, yang dahulunya berada di bawah naungan Sriwijaya menjadikan Sriwijaya taklukannya.

Raja yang memerintah

Para Maharaja Sriwijaya

Date  ↓ King’s name  ↓ Capital  ↓ Prasasti, catatan pengiriman utusan ke Tiongkok serta peristiwa  ↓
683 Jayanasa Palembang Prasasti Kedukan Bukit (683), Talang Tuo (684), dan Kota KapurPenaklukan Malayu, penaklukan Jawa Tengah
702 Indravarman Utusan ke Tiongkok 702-716, 724
728 Rudra vikraman atau Lieou-t’eng-wei-kong Utusan ke Tiongkok 728-748
Tidak ada berita pada periode 728-775
790 Dharmasetu Nakhon Si Thammarat (Ligor) Vat Sema Muang
775 Sangramadhananjaya or Vishnu JawaLigor Naskah Arab (790)Memulai pembangunan Borobudur pada 770, menaklukkan Kamboja selatan
792 Samaratungga Jawa 802 kehilangan jajahannya di Kamboja
835 BalaputraSri Kaluhunan Jawa-Palembang Kehilangan Jawa Tengah,Prasasti Nalanda (860)
Tidak ada berita pada periode 835-960
960 Sri Uda Haridana atau Çri Udayadityavarman Palembang Utusan ke Tiongkok 960
961 Sri Wuja atau Çri Udayadityan Palembang Utusan ke Tiongkok 961-962
Tidak ada berita pada periode 961-980
980 Hia-Tche Palembang Utusan ke Tiongkok 980-983
988 Sri Culamanivarmadeva Palembang Utusan ke Tiongkok 988-992-1003Jawa menyerang Palembang, pembangunan kuil untuk Kaisar China, Prasasti Tanjore atau Prasasti Leiden (1044), pemberian anugrah desa oleh Raja-raja I
1008 Sri Maravijayottungga Palembang Utusan ke Tiongkok 1008
1017 Sumatrabhumi Palembang Utusan ke Tiongkok 1017
1025 Sangramavijayottungga Palembang Dikalahkan oleh Rajendra CholaPrasasti Chola pada candi Rajaraja, Tanjore
1028 Sri Deva Palembang Utusan ke Tiongkok 1028
Tidak ada berita pada periode 1028-1064
1064 Dharmavira Solok, Jambi
Tidak ada berita pada periode 1064-1156
1156 Sri Maharaja Palembang Utusan ke Tiongkok 1156
Tidak ada berita pada periode 1156-1178
1178 Trailokaraja Maulibhusana Varmadeva Jambi Utusan ke Tiongkok 1178Arca Buddha perungguChaiya 1183
Tidak ada berita pada periode 1183-1251

CERITA PUYANG SUMATERA SELATAN

KHASANAH kesusastraan daerah di Indonesia tersebar dari Sabang hingga Merauke. Kesusastraan tersebut lahir dari berbagai etnis, suku bangsa, yang berbeda gagasan, nilai, norma, dan aturan. Hal itu mencerminkan kekayaan khasanah kesusastraan daerah di Indonesia yang beragam baik bentuk maupun isi.

Sumatera Selatan merupakan salah satu daerah di Indonesia yang memiliki beragam kekayaan tradisi lisan. Tradisi lisan tersebut mencakup segala hal yang berhubungan dengan sastra, sejarah, biografi, dan berbagai pengetahuan serta jenis kesenian disampaikan dari mulut ke mulut.

Tradisi lisan Sumatera Selatan sangat luas bagaikan hutan belantara yang masih memerlukan sentuhan intelektual untuk menggali sumber-sumber atau potensi fakta dan budaya yang masih tersembunyi. Potensi dan fakta tersebut menurut Edy Sedyawati, paling tidak meliputi: (1) sistem genealogi; (2) kosmologi dan kosmogoni; (3) sejarah; (4) filsafat, etika, dan moral; (5) sistem pengetahuan (local knowledge), dan kaidah kebahasaan dan kesastraan.

Salah satu bentuk tradisi lisan adalah sastra lisan. Menurut Shipley, sastra lisan adalah jenis atau kelas sastra tertentu yang dituturkan dari mulut ke mulut, tersebar secara lisan, anonim, dan menggambarkan kehidupan masa lampau. Sastra lisan mencakup bahasa rakyat, ungkapan tradisional, pertanyaan tradisional, cerita prosa rakyat, dan nyanyian rakyat. Cerita prosa rakyat dibagi menjadi tiga golongan besar, yaitu: mite, legenda, dan dongeng.

Cerita prosa rakyat Sumatera Selatan yang maih tetap bertahan dan dikenal masyarakat adalah cerita mengenai Puyang-puyang. Cerita Puyang hampir terdapat di berbagai daerah di Sumatera Selatan. Cerita Puyang ini menjadi suatu cerita yang unik karena hanya dapat ditemukan di wilayah Sumatera Selatan_namun perlu dilakukan kajian dan penelitian lebih lanjut mengenai hal ini_. Daerah lain di Indonesia juga ada cerita prosa rakyat yang memiliki tokoh sakti atau tokoh hebatan atau wira atau pahlawan dengan nama yang berbeda-beda.

Cerita Puyang biasanya dewa atau pahlawan kebudayaan ketika dunia belum seperti sekarang ini. Cerita Puyang hadir dan berakar pada kwalitas pemiliknya yang sekaligus sangat memercayainya dan mengagung-agungkannya. Cerita Puyang merupakan produk budaya yang disampaikan secara terus-menerus dan turun-temurun melalui pewarisan lisan. Terkadang disertai bukti-bukti sejarah, seperti benda-benda dan temapat-tempat keramat (makam atau tapak tilas) yang mendukung keberadaan Puyang-puyang.

Puyang diyakini oleh masyarakat Sumatera Selatan sebagai tokoh sakti yang merupakan sossok nenek moyang (keturunan) etnik tertentu di Sumatera Selatan. Cerita Puyang umumnya menampilkan tokoh dengan penampilan luar biasa. Keluarbiasaan biasanya ditandai dengan berbagai sifat yang tidak dimiliki oleh manusia biasa, di antaranya berupa tampilan sebagai manusia dengan sifat-sifat yang diidam-idamkan, yang mengherankan, atau yang menakutkan. Penampilan citra seperti itu sangat tergantung pada selera dan konteks masyarakat tempat lahirnya Puyang-puyang tersebut.

Di Besemah kita begitu mengenal sosok Atong Bungsu, yang diyakini sebagai tokoh yang dimitoskan oleh masyarakat setempat sebagai tokoh sakti pembawa pembaharuan. Ada pula Si Pahit Lidah yang diyakini masyarakat di beberapa daerah di Sumatera Selatan juga sebagai tokoh yang dimitoskan. Kisah hidup Si Pahit Lidah begitu populer di kalangan masyarakat Sumatera Selatan.

Cerita Puyang Sumatera Selatan yang pernah diinventaris dan diteliti, antara lain:

(1) Puyang Belulus (Besemah)

(2) Puyang Tungkuk (Besemah)

(3) Puyang Kerbau Menyeberang (Besemah)

(4) Puyang Siak Mandi Api (Besemah)

(5) Puyang Tanjung (Besemah)

(6) Puyang Bege (Besemah)

(7) Puyang Depati Konedah (Musi)

(8) Puyang Ronan (Musi)

(9) Puyang Remanjang Sakti (Enim)

(10) Puyang Gadis (Lematang)

(11) Tuan Puyang Ndikat (Lematang)

(12) Puyang Rakian Sakti dengan Ratu Acih (Aji)

Cerita Puyang biasanya memiliki ciri-ciri tertentu dan merupakan sosok yang sangat hebat dan superior. Tokoh tersebut seolah-olah selalu tahu apa yang terjadi dan akan terjadi. Ia adalah sosok yang hampir tidak pernah kalah dalam segi apapun (mengalahkan dirinya dan orang lain). Kesaktian dan keajaiban yang dimilikinya sangat disegani oleh pengikutnya maupun musuh-musuhnya. Umumnya cerita Puyang-puyang tersebut senantiasa membawa pertolongan demi penyelamatan orang-orang yang berhati baik dan memiliki kebenaran dari orang-orang jahat yang menganiaya atau menzaliminya.

Puyang merupakan orang sakti atau orng suci dan bahkan kadang-kadang bagi sebagian pewaris aktifnya dianggap sebagai Dewa. Selain itu, Puyang adalah sosok yang baik hati bukan hanya kepada manusia tetapi makhluk lain, seperti hewan dan tumbuh-tumbuhan.

Puyang dapat pula berlaku sebaliknya kepada orang-orang jahat dan berkelakuan buruk. Dengan kesaktiannya yang luar biasa Puyang-puyang tersebut dapat menumpahkan kemarahannya dengan hukuman yang berat, bahkan mengutuknya. Nama Puyang-puyang biasanya sangat akrab dan dikenal luas di tengah masyarakat hingga kini.

RIWAYAT KIAI MUARA OGAN

JIKA kita melongok ke tepian Sungai Ogan di kecamatan Kertapati, maka akan tampak sebuah masjid dengan arsitektur yang mirip dengan masjid Agung. Ornamen yang ada di Masjid Kiai Merogan menunjukkan berbagai budaya yang tumbuh di masyarakat Palembang pada waktu itu, yaitu perpaduan Melayu dan Timur dengan ciri keterbukaan. Itulah Masjid Kiai Merogan.

Masjid Kiai Merogan ini merupakan masjid kedua yang dibangun di Palembang, setelah Masjid Agung. Masjid Kiai Merogan didirikan pada tahun 1310 H atau 1890 M oleh ulama Palembang yang sangat terkenal, yaitu Ki Mgs. H. Abdul Hamid bin Mgs H. Mahmud alias K. Anang atau yang lebih dikenal dengan nama Kiai Merogan dengan biaya sendiri. Ki Mgs. H. Abdul Hamid bin Mgs H. Mahmud alias K. Anang atau Kiai Merogan ini dilahirkan pada tahun 1811 M dari seorang ulama dan pedagang yang sukses.

Kiai Merogan mendirikan masjid tersebut dengan sebuah naskah yang terdapat tulisan “Nuzar Nujal Lillahi Ta’alai” pada tanggal 6 Syawal 1310 H. Di masa Kesultanan Palembang masjid ini punya peran yang strategis dalam berbagai kegiatan keagamaan dan sosial masyarakat Palembang.

Kiai Merogan senantiasa mengajarkan zikir kepada pengikutnya dengan cara yang unik. Apabila Beliau akan pergi-pulang dari Masjid Kiai Merogan ke Masjid Lawang Kidul, sambil mengasuh perahu Beliau dan pengikutnya bersama-sama menyenandungkan zikir secara berulang-ulang. Karena itulah penduduk sekitar tahu kalau Kiai Merogan sedang lewat dan sejak itulah Beliau dikenal dengan nama Kiai Merogan. Nama Kiai Merogan sesuai dengan aktivitas Beliau yang sering berada di kawasan Muara sungai Ogan yang airnya mengalir ke sungai Musi.

Tidak hanya Masjid Kiai Merogan yang dibangun Kiai Merogan, tetapi Masjid Lawang Kidul yang berada di tepi Sungai Musi, di daerah seberang ilir, kelurahan 5 ilir. Selain itu, Kiai Merogan juga mendirikan masjid di desa Pedu, Pemulutan, OKI dan masjid di desa Ulak Kerbau Lama, Pegagan Ilir, OKI. Sangat disayangkan, kebakaran yang terjadi pada tahun 1964—1965 telah menghanguskan peninggalan karya tulis Kiai Merogan.

Semasa hidupnya, Ki Merogan melakukan pelawatan ke Mekkah dan Saudi Arabia untuk menuntut ilmu agama. Namun, selama berada di negeri orang, Beliau senatiasa terbayang dan teringat pada “Si anak Yatim” yang berada di tepian Sungai Ogan dan tepian Sungai Musi, yang tak lain adalah Masjid Kiai Merogan dan Masjid Lawang Kidul.

Kiai Merogan meninggalkan para pendukungnya pada 31 Oktober 1901 dan dimakamkan di sekitar Masjid Kiai Merogan Meskipun, Kiai Merogan telah lama tiada, makamnya dikeramatkan hingga kini dan senantiasa ramai dikunjungi para peziarah yang datang dari berbagai daerah untuk berdoa dan mendapat berkah.

Kiai Merogan dapat dipandang sebagai sejarah kolektif (folk history). Cerita-cerita orang-orang suci (legends of the saints) dapat terus hidup di tengah masyarakat pendukungnya.

Cerita-cerita mengenai kemujizatan, wahyu, permintaaan melalui sembahyang, kaul yang terkabul, dan lain-lain dapat kita peroleh melalui pewarisan lisan dari waktu ke waktu, di antaranya kisah mengenai ikan.

Pada suatu waktu ada pedagang ikan yang berasal dari OKI membawa ikan yang hendak dijualnya ke Palembang. Namun, ketika sampai di Palembang, semua ikan-ikan tersebut mati. Lalu, pedagang itu teringat akan kemasyuran Kiai Merogan. Kemudian pedagang tersebut menemui Kiai Merogan untuk meminta nasihat. Belum sempat pedagang itu berkata sepatah katapun, Kiai Merogan langsung berkata, “Insya’Allah, semua ikan-ikanmu hidup dan dapat dijual ke pasar!” Ketika sampai di perahu, pedagang itu melihat seluruh ikan-ikannya hidup.

Kisah lainnya, ketika seseorang ingin membuktikan kekeramatan Kiai Merogan dengan cara melepas seekor ikan yang besar, sambil berkata “Hai Ikan, pergilah Engkau menemui Kiai Merogan di Masjid Merogan!” Belum sempat mengutarakan maksudnya, sang Kiai lebih dulu menyapanya dan berkata kalau kirimannya sudah sampai dan diterima dengan baik.

Kiai Merogan memang telah lama tiada, namun peninggalannya tetap abadi dan berdiri kokoh. Kisah, perjuangan, dan ajarannya senantiasa hidup, hadir, dan menjadi teladan masyarakat pendukungnya dari waktu ke waktu