Materi Akhlaq


I. Definisi

Imam Ibnu Qudamah menyebutkan dalam Mukhtashor Minhajul Qoshidiin bahwa akhlaq merupakan ungkapan tentang kondisi jiwa, yang begitu mudah menghasilkan perbuatan tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan, jika perbuatan itu baik maka disebut akhlaq yang baik, dan jika buruk maka disebut akhlaq yang buruk.

Misalnya, ketika kita jalan kaki kita tiba-tiba terantuk batu, kita kaget, kata pertama apa yang akan kita ucapkan waktu itu. Ucapan spontanitas yang terlontar dari mulut kita waktu itu menunjukkan akhlaq kita yang sesungguhnya. Jika ucapan yang terlontar secara spontanitas saat itu adalah berupa kalimat thoyyibah maka kita tergolong berakhlaq baik. Tapi jika yang terlontar adalah kata-kata kotor maka kita berakhlaq buruk.

II. Keutamaan Akhlaq Baik

Akhlak ialah salah satu faktor yang menentukan derajat ke-islam-an dan keimanan seseorang.

“Sesungguhnya kekejian dan perbuatan keji itu sedikitpun bukan dari Islam dan sesungguhnya sebaik-baiknya ke-islam-an manusia adalah yang paling baik akhlaqnya.”

(HR Thabrani, Ahmad dan Abu Ya’la)

“Sesungguhnya termasuk insan pilihan di antara kalian adalah yang terbaik akhlaqnya.”

(Muttafaq ‘alaihi)

“Sesungguhnya seseorang itu dengan sebab akhlaqnya yang baik, sungguh akan mencapai derajat orang yang sholat malam dan shaum di siang hari” (Hadits shohih riwayat Abu Daud dan Hakim)

“Sesungguhnya seorang muslim yang dibimbing lurus (oleh Alloh) benar-benar akan mencapai derajat ahli shaum dan ahli ibadah (sholat) yang selalu melantunkan ayat-ayat Alloh disebabkan karakternya yang mulia dan akhlaqnya yang baik”

(Hadits shohih riwayat Ahmad)

· Akhlaq yang mulia merupakan penyebab masuknya orang yang memiliki akhlaq yang mulia tersebut kedalam Jannah (surga).

Dari Abu Huroiroh Rodliyallohu ‘anhu bahwasannya Rosululloh Shollollohu ‘alaihi wa Sallam pernah ditanya tentang perbuatan yang menyebabkan banyak manusia yang masuk Jannah, maka beliau menjawab “Takwa kepada Alloh dan akhlaq yang baik”, beliau ditanya pula tentang penyebab yang menjadikan banyak manusia masuk neraka, maka beliau menjawab “mulut dan kemaluan.”

(Diriwayatkan Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, Ibnu Hibban (Mawarid), Al Baghowi (Ma’alim At Tanziil, dan Syarhu As Sunnah), Al Khoroithi (Makarimul Akhlaq hal. 10), dan Bukhori (Al Adab Al Mufrod, 442).

· Akhlaq yang mulia merupakan penyebab seorang hamba dicintai Alloh dan Rosul Nya

“Hamba-hamba Alloh yang paling dicintai-Nya adalah yang paling baik akhlaqnya diantara mereka.”

(Hadits riwayat Thabrani dan Hakim)

“Sesungguhnya yang paling aku cintai diantara kalian dan yang paling dekat dengan majelisnya dariku di hari kiamat adalah yang paling baik akhlaqnya diantara kalian.”

(Hadits riwayat Tirmidzi dan Imam Ahmad)

· Akhlaq yang mulia menjadikan rumah makmur

“Akhlaq yang baik dan bertetangga yang baik, keduanya menjadikan rumah makmur dan menambah umur”

(Hadits shohih riwayat Ahmad)

III. Faktor-faktor Pembentuk Akhlaq

1. Faktor Genetik/Bawaan

Misalnya seseorang mempunyai orang tua yang bersifat pemarah. Maka kemungkinan besar anaknya akan menuruni sifat bawaan tersebut.

2. Faktor Psikologis

Faktor ini dari nilai-nilai yang ditanamkan oleh keluarga (misalnya ayah dan ibu), tempat seseorang tumbuh dan berkembang sejak lahir. Semua anak dilahirkan dalam fitrah, orang tua nyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.

Seseorang yang lahir dalam keluarga yang orang tuanya bercerai akan berbeda dengan seseorang yang lahir dalam keluarga yang orang tuanya lengkap.

3. Faktor Sosial atau Lingkungan

Faktor ini merupakan salah satu yang pengaruhnya besar terhadapa akhlaq dan kepribadian seseorang. Jika Ia banyak bergaul dengan orang-orang yang akhlaqnya baik, insya Allah Ia akan mempunyai akhlaq baik pula.

“Sesungguhnya perumpamaan sahabat yang baik dan sahabat yang buruk itu bagaikan pembawa kasturi dan peniup api. Maka pembawa kasturi adakalanya memberi kepadamu, atau kamu membeli kepadanya, atau kamu mendapat bau harum daripadanya. Adapun peniup api, kalau tidak terbakar pakaianmu kau akan mendapat bau tak sedap daripadanya.”

(HR Bukhari, Muslim)

IV. Hubungan akhlaq dengan pemahaman terhadap Islam dan nilai-nilainya

Hubungan akhlaq terhadap pemahaman Islam dan nilai-nilainya, dapat dibagi menjadi beberapa hal sbb :

1. Orang yang belum tahu tentang Islam dan nilai-nilainya, sehingga menyebabkan dirinya mempunyai akhlaq yang buruk.

2. Orang yang paham terhadap Islam dan nilai-nilainya tetapi dirinya belum mengetahui hikmah dari hal tersebut, sehingga dirinya cenderung berakhlaq buruk.

3. Orang yang paham terhadap Islam dan nilai-nilainya tetapi tidak mau tahu dan acuh sehingga dia berakhlaq buruk.

4. Orang yang paham terhadap Islam dan nilai-nilainya, tetapi dia memahaminya hal tersebut sebagai nilai-nilai kemanusiaan belaka sehingga kebaikan akhlaqnya tidak bernilai dihadapan Allah.

Mari kita uraiakan satu persatu dari point-point di atas :

1. Orang yang belum tahu tentang Islam dan nilai-nilainya, sehingga menyebabkan dirinya mempunyai akhlaq yang buruk.

Contoh dari hal ini adalah kaum di suku pedalaman yang belum pernah mendapat dakwah Islam. Mereka akan berakhlaq sesuai dengan naluri mereka saja. Misal pakaian yang mereka pakai hanya digunakan untuk melindungi mereka dari pengaruh alam. Mereka belum mengetahui konsep aurat dalam Islam. Sehingga dari sudut pandang orang yang mengetahui konsep aurat dalam Islam akan berpandangan bahwa mereka berakhlaq buruk soal pakaian.

Contoh lain adalah ketika orang belum mengetahui konsep mahram, konsep pergaulan dengan lawan jenis. Dalam Islam seorang laki-laki dan perempuan dilarang saling bersentuhan jika mereka bukan mahram. Batasan mahram ada dalam QS An Nisaa : 23,

“ Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan[281]; saudara-saudaramu yang perempuan, Saudara-saudara bapakmu yang perempuan; Saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang Telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), Maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang Telah terjadi pada masa lampau; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

[281] maksud ibu di sini ialah ibu, nenek dan seterusnya ke atas. dan yang dimaksud dengan anak perempuan ialah anak perempuan, cucu perempuan dan seterusnya ke bawah, demikian juga yang lain-lainnya. sedang yang dimaksud dengan anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu, menurut Jumhur ulama termasuk juga anak tiri yang tidak dalam pemeliharaannya.

Dan larangan bersentuhan dengan yang bukan mahram ada dalam hadist :

“Adalah lebih baik bagi seseorang untuk ditusuk tangannya dengan jarum besi daripada ia harus menyentuh wanita yang tidak halal baginya.”

(HR Thabrani dan Baihaqi)

2. Orang yang paham terhadap Islam dan nilai-nilainya tetapi dirinya belum mengetahui hikmah dari hal tersebut, sehingga dirinya cenderung berakhlaq buruk.

Seseorang sebenarnya mengetahui bahwa jika bertemu dengan muslim lain disunnah untuk saling mengucapkan salam sebagaimana firman Allah dalam QS An Nisaa :86

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, Maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa)[327]. Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu”

[327] penghormatan dalam Islam ialah: dengan mengucapkan Assalamu’alaikum.

tetapi dia tidak mengetahui bahwa ada hikmah yang besar dibalik perintah tersebut terdapat hikmah yang besar, yaitu :

* Dengan mengucapkan salam, hakekatnya kita juga mendoakan diri sendiri. Kalimat Assalamu’alikum yang artinya semoga keselamatan dan kesejahteraan terlimpahkan atas kalian. Akan dijawab dengan wa’alikum salam yang artinya dan semoga keselamatan dan kesejahteraan atas kamu juga.
* Dengan mengucapkan salam maka akan menimbulkan kasih sayang

Dan Sabda Rosulullah dari Abu Hurairah :

“Kamu tidak akan masuk sorga hingga beriman, dan kamu tidak beriman hingga berkasih sayang terhadap sesama. Sukakah aku tunjukkan sesuatu jika kamu kerjakan akan timbul kasih sayang di antara kamu. Sebarkanlah salam di antara kamu.” (HR Muslim)

3. Orang yang paham terhadap Islam dan nilai-nilainya tetapi tidak mau tahu dan acuh sehingga dia berakhlaq buruk.

Hal ini sangat merugikan, baik diri sendiri maupun orang lain. Orang paham bahwa merokok itu hal yang sia-sia dalam Islam bahkan ada yang sampai mengharamkannya. Dia juga tahu kalau merokok membahayakan kesehatan, tapi karena dia tidak mau tahu maka dia mengacuhkan hal tersebut dia merokok seenaknya tanpa memperdulikan diri sendiri dan orang lain. Padahal hal tersebut mendzolimi diri sendiri dan orang lain.

Contoh lain, Seseorang yang mengetahui bahwa menutup aurat itu wajib bagi setiap muslim, dan dia tahu manfaatnya jika menutup aurat, antara lain, lebih menjaga kehormatan diri, tidak mudah diganggu orang, dll. Tapi dengan alasan kepuasan, gila sanjungan, profesi dll, dia mengacuhkan kewajiban itu

4. Orang yang paham terhadap Islam dan nilai-nilainya, tetapi dia memahaminya hal tersebut sebagai nilai-nilai kemanusiaan belaka sehingga kebaikan akhlaqnya tidak bernilai dihadapan Allah.

Ini berlaku untuk orang-orang kafir yang akhlaqnya baik. Dia baik terhadap teman, baik terhadap tetangganya, murah senyum, dermawan tapi dia tetap dalam kekafirannya, tidak menyembah Allah. Maka kebaikan akhlaqnya tidak bernilai pahala di hadapan Allah. Sebagaimana firman Allah QS. Ali ‘Imron 21:22

21. “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memang tak dibenarkan dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, Maka gembirakanlah mereka bahwa mereka akan menerima siksa yg pedih.”

22. “Mereka itu adalah orang-orang yang lenyap (pahala) amal-amalnya di dunia dan akhirat, dan mereka sekali-kali tidak memperoleh penolong.”

QS Al Maidah : 5

“Pada hari Ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (dan dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan[402] diantara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu Telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. barangsiapa yang kafir sesudah beriman (Tidak menerima hukum-hukum Islam) Maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat termasuk orang-orang merugi.”

[402] ada yang mengatakan wanita-wanita yang merdeka.

QS Al A’raaf : 147

“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami dan mendustakan akan menemui akhirat, sia-sialah perbuatan mereka. mereka tidak diberi balasan selain dari apa yang Telah mereka kerjakan.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s